Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi merilis hasil Survei Evaluasi Pelaksanaan Program Ditjen Risbang Tahun 2025. Survei daring yang melibatkan 5.942 responden ini dipaparkan dalam Forum Dialog Risbang Akhir Tahun 2025, Rabu (31/12).
Hasil survei menunjukkan tingkat kepuasan sivitas akademika mencapai 85,8 persen. Mayoritas responden menilai program Ditjen Risbang relevan dengan kebutuhan riset dan pengembangan perguruan tinggi. Sebanyak 87,1 persen responden menyatakan program sesuai kebutuhan, sementara 88,1 persen menilai program berkontribusi nyata pada peningkatan kualitas riset, termasuk penguatan talenta, luaran, jejaring, dan dampak.
Survei ini memiliki tingkat kepercayaan 99 persen dengan margin of error 1–2 persen. Responden didominasi dosen perguruan tinggi akademik (90 persen) dan vokasi (9,9 persen), dengan mayoritas berasal dari perguruan tinggi swasta. Sebaran wilayah terbesar berasal dari Jawa, disusul Bali–Nusa Tenggara, Sumatera, Sulawesi–Maluku–Papua, dan Kalimantan.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menyatakan hasil survei menjadi refleksi capaian sekaligus masukan strategis bagi perbaikan program ke depan.
“Hasil survei ini menunjukkan bahwa program Ditjen Risbang berada pada jalur yang tepat dan dinilai relevan serta berdampak. Namun, kami juga mencermati catatan perbaikan, terutama terkait durasi program, penguatan komunikasi, serta perluasan akses kolaborasi dan hilirisasi riset,” ujar Fauzan.
Dari aspek tata kelola, 85,7 persen responden menilai mekanisme pelaksanaan program berjalan efektif, sementara 80,5 persen menyebut durasi program sudah memadai. Dampak program dirasakan signifikan, dengan 87,7 persen responden menyatakan luaran program bermanfaat bagi dosen, mahasiswa, institusi, dan masyarakat.
Penilaian terhadap layanan Ditjen Risbang tercatat 83,9 persen. Koordinasi dengan perguruan tinggi dinilai efektif oleh 85,6 persen responden, serta layanan administrasi dan sistem digital seperti BIMA, SINTA, dan platform hilirisasi memperoleh penilaian 85,2 persen.
Survei juga mencatat tingkat pemahaman responden terhadap program Ditjen Risbang mencapai 86,1 persen. Informasi program dinilai jelas dan memadai, dengan sosialisasi serta panduan teknis yang mudah diakses. Meski demikian, survei mengidentifikasi kesenjangan antara kebutuhan dan tingkat partisipasi pada beberapa program strategis, khususnya kolaborasi riset, hilirisasi, dan penguatan talenta.
Menutup forum, Fauzan menegaskan komitmen Ditjen Risbang untuk melakukan perbaikan berkelanjutan. Ke depan, Ditjen Risbang akan memperkuat perencanaan, layanan, dan komunikasi agar program riset semakin adaptif, inklusif, serta berdampak nyata bagi penguatan ekosistem riset dan inovasi nasional.











