Bupati Labuhanbatu, Sumatera Utara, dr. Hj. Maya Hasmita, Sp.OG., M.M., berkomitmen kuat terhadap aktualisasi kebudayaan dan pembentukan jati diri anak bangsa sejak dini. Hal tersebut membawanya melenggang ke puncak Anugerah Kebudayaan PWI Pusat, pada Hari Pers Nasional (HPN) di Banten, 9 Februari 2026.
Setelah Bunda Maya, panggilan akrabnya, berhasil mempertahankan proposalnya berjudul Gema Sahabat (Gerakan Empati Masyarakat Sahabat Anak Hebat), di depan Dewan Juri, 9/1/2026, via zoom, usai memakamkan ibunya. Gerakan ini, merupakan program andalannya, dan sangat bermanfaat terutama sebagai sarana healing, pada anak-anak di daerahnya, korban sabda alam (sebutan lebih pas dibanding bencana alam) di Sumatra Desember 2025.
Sebelum menjadi Bupati, Bunda Maya bekerja sebagai Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, dan melanjutkan kuliah hingga meraih Magister Kesehatan Masyarakat. Ketika suaminya menjadi Bupati Labuhanbatu, sebelum ia gantikan, ia menjadi Bunda PAUD Labuhanbatu (Bunda Pendidikan Anak Usia Dini). Pernah menjadi Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) Labuhanbatu. Juga pernah menjadi pembina Sahabat Bunda Maya. Sejak tahun 2025 terjun ke gelanggang politik, sebagai kader Partai Gerindra.
*Gerakan Berbasis Budaya Lokal*
Gema Sahabat merupakan sebuah gerakan kemanusiaan berbasis budaya lokal yang digerakkan oleh Bunda PAUD Kabupaten Labuhanbatu. Selain untuk pendidikan karakter (anak) bangsa dan pengenalan kebudayaan sejak dini, program ini menjadi ruang kolaborasi lintas etnis, lintas lembaga, dan lintas kepedulian : menyatukan masyarakat Jawa, Batak, Tionghoa, unsur pemerintah, dan swasta dalam semangat gotong royong.
“Gema Sababat lahir dari kesadaran bahwa kebudayaan bukan hanya warisan, tetapi energi hidup yang mampu memulihkan, menguatkan, dan menyatukan,” ujar Bupati Maya Hasmita di depan Dewan Juri, yang diketuai Yusuf Susilo Hartono (Wartawan senior, Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat) dengan anggota Dr.Nungki Kusumastut (Dosen IKJ, penari, artis film), Agus Dermawan T. (Pengamat seni budaya, penulis buku, penerima Anugerah Kebudayaan RI), Sudjiwo Tejo (Seniman, budayawan, mantan wartawan, Tim Pakar PWI Pusat), Akhmad Munir (Dewas LKBN Antara, Ketua Umum PWI Pusat 2025–2030).
Bunda Maya menjelaskan, melalui kegiatan trauma healing, bernyanyi bersama, sesi motivasi, hingga penyaluran bantuan perlengkapan sekolah dan kebutuhan dasar, Gema Sahabat telah hadir langsung mendampingi anak-anak korban bencana alam di Batang Toru, Sumatera Utara, belum lama ini.
Kabupaten Labuhanbatu termasuk daerah yang terkena bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatera Utara akhir tahun 2025, bersama Provinsi Sumatera Barat dan Aceh. “Program ini membuktikan bahwa kebudayaan dapat menjadi kekuatan pemulih psikososial sekaligus perekat solidaritas kemanusiaan,” tandasnya.
*Pembelajaran Karakter Sejak Usia Dini*
Lebih jauh Bunda Maya menguraikan, Gema Sahabat juga menjadi sarana aktualisasi kebudayaan Labuhanbatu dalam pembelajaran karakter sejak usia dini. Anak-anak diajak memahami bahwa tumbuh sebagai bagian dari masyarakat Labuhanbatu berarti tumbuh dalam nilai empati, kebersamaan, dan kepedulian.
Memang program ini tumbuh dari realitas geografis Labuhanbatu yang didominasi dataran rendah, kawasan sungai, serta perbukitan.Kondisi alam tersebut membentuk masyarakat yang terbiasa hidup berdampingan dengan dinamika lingkungan, menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya gotong royong dan solidaritas sosial.
Baginya, alam bukan hanya bentang wilayah, tetapi guru yang membentuk karakter budaya masyarakat Labuhanbatu. Dari situlah lahir empati dan kesiapsiagaan dalam merespons krisis kemanusiaan, khususnya untuk melindungi anak-anak. (Rilis AK-PWI)







