Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau langsung lokasi longsor di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (9/3).
Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan proses penanganan pascalongsor berjalan cepat, aman, serta mengutamakan keselamatan petugas dan masyarakat di sekitar lokasi.
Dalam peninjauan tersebut, Pramono memerintahkan normalisasi Sungai Ciketing yang tertutup material longsoran sampah.
Menurutnya, normalisasi perlu segera dilakukan karena aliran sungai yang tertutup dapat mengganggu akses jalan serta aktivitas warga di sekitar lokasi.
Bantargebang Terima Ribuan Ton Sampah
Pramono menjelaskan, TPST Bantargebang setiap hari menerima kiriman sampah dari Jakarta sekitar 7.400 hingga 8.000 ton.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong penerapan pemilahan sampah untuk mengurangi beban tempat pengolahan tersebut.
Ia juga mengakui kapasitas Bantargebang saat ini semakin terbatas sehingga diperlukan pembatasan pengiriman sampah.
Sambil menunggu pemulihan zona 4A yang terdampak longsor, pengiriman sampah sementara dialihkan ke zona 3 serta dua zona baru yang sedang disiapkan sebagai lokasi sementara.
RDF Rorotan Disiapkan
Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan pengoperasian fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan di Jakarta Utara sebagai solusi pengolahan sampah jangka menengah.
Saat ini fasilitas tersebut masih dalam tahap uji coba dan persiapan operasional agar dapat berfungsi secara aman dan ramah lingkungan.
Pramono menargetkan fasilitas RDF Rorotan mampu mengolah sekitar 1.000 hingga 1.500 ton sampah per hari setelah beroperasi penuh.
Longsor Dipicu Hujan Ekstrem
Peristiwa longsor di zona 4A TPST Bantargebang diduga dipicu hujan ekstrem pada Minggu (8/3) dengan curah hujan mencapai 264 milimeter per hari.
Longsoran sampah tersebut menutup jalan operasional dan aliran Sungai Ciketing sepanjang sekitar 40 meter.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyampaikan duka cita atas korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Tercatat empat orang meninggal dunia, sementara lima orang lainnya mengalami luka ringan dan telah kembali ke rumah masing-masing.
Operasi Tanggap Darurat
Pemprov DKI Jakarta memastikan seluruh korban mendapatkan bantuan dan perhatian.
Korban meninggal yang merupakan petugas Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) Dinas Lingkungan Hidup akan menerima santunan dari BPJS Ketenagakerjaan.
Sementara biaya pengobatan korban luka serta bantuan sosial bagi warga terdampak ditanggung oleh pemerintah daerah.
Operasi tanggap darurat juga melibatkan tim gabungan dari Basarnas, Polda Metro Jaya, TNI, BPBD DKI Jakarta dan Kota Bekasi, serta Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan.
Proses evakuasi didukung 19 ekskavator alat berat dan tujuh ambulans yang dikerahkan di lokasi.






