Home / Berita / Karena Kalah Telak Di Media Sosial, Tim Digital Prabowo-Sandi Sebut Jokowi Jadi Tak Percaya Medsos
Anthony Leong adalah Koordinator Prabowo-Sandi Digital Team (PRIDE) dan juga Anggota Direktorat Media dan Komunikasi BPN Prabowo-Sandi.

Karena Kalah Telak Di Media Sosial, Tim Digital Prabowo-Sandi Sebut Jokowi Jadi Tak Percaya Medsos

Jakarta, sketsindonews – Pernyataan Joko Widodo yang mengatakan tidak percaya kepada media sosial mendapatkan kritikan dari tim digital Prabowo Subianto Sandiaga Uno. Koordinator Prabowo-Sandi Digital Team (PRIDE), Anthony Leong mengatakan bahwa pernyataan Jokowi tersebut menunjukkan kekhawatirannya terhadap kekuatan di media sosial.

“Pak Jokowi sepertinya sadar kalau memang netizen menunjukkan sentimen  negatif kepada Pak Jokowi dan Kyai Ma’ruf sedangkan Pak Prabowo dan Bang Sandi sangat positif di media sosial. Suara yang ada di sosmed itu suara rakyat,” ujar Anthony saat dihubungi, Senin (11/02).

Lebih lanjut, Anthony yang juga anggota Direktorat Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional Prabowo – Sandi juga siap membuktikan data tentang kekalahan Jokowi-Ma’ruf di pembicaraan media sosial melalui metode big data.

“Ini era big data, semua data digital bisa dicapture. Kami akan maksimalkan algoritma di media sosial untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas Prabowo-Sandi. Jokowi menang di sosmed 2014 jangan karena sekarang kalah jadinya tidak percaya,” lanjutnya.

Terakhir, pakar digital ini menekankan bahwa saat ini interaksi media sosial menjadi arena yang penting dalam suatu kontestasi demokrasi termasuk Pemilu 2019 nanti.

“Di era demokrasi ini, media sosial itu medan tempur yang juga harus dimenangkan. Opini dibentuk dalam ruang-ruang interaksi di berbagai media sosial,” tutupnya.

Seperti diketahui, dalam peringatan Hari Pers kemarin Presiden Joko Widodo menyampaikan ketidakpercayaannya ke media sosial dibanding media konvensional.

Era media sosial, kata dia, membuat siapa pun dapat bekerja sebagai jurnalis, tetapi tidak sedikit yang menyalahgunakan media sosial untuk menebar ketakutan di ruang publik.

“Sekarang setiap orang bisa bisa menjadi wartawan dan pemred. Tetapi kadang digunakan untuk menciptakan kegaduhan, ada juga yang membangun ketakutan pesimisme,” katanya.

Presiden memisalkan, saat pemerintah menyampaikan satu informasi yang berisi kabar baik dan fakta. Namun yang muncul di ruang publik disimpulkan sebagai satu pencitraan semata.

“Ketika pemerintah menyampaikan ‘well infomation society‘, jangan diartikan sebagai kampanye atau pencitraan, tetapi itu untuk membangun masyarakat yang sadar akan informasi,” kata dia.

(Eky)

Check Also

Adakan Roadshow Workshop Pelatihan Digital di Jateng, Prabowo – Sandi Optimis Kalahkan Jokowi

Jateng, sketsindonews – Sebagai upaya dalam memenangkan pasangan Capres dan Cawapres 02 di Provinsi Jawa …

Watch Dragon ball super