Kenapa Warga Daan Mogot Protes Pengungsi Karena Terusik

Jakarta, sketsindonews – Sebuah spanduk protes warga terpampang di lingkungan Perumahan Daan Mogot menyinggung cara kerja UNHCR dan Pemprov DKI Jakarta wilayahnya menjadi terusik dimana tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada warga sekitar, mereka menempatkan para pengungsi (imigran) di gedung bekas Kodim yang terletak persis di dalam perumahan Daan Mogot Baru, Kalideres, Jakarta Barat.

Aparat pemerintah, mulai dari RT, RW, Lurah, Camat setempat, sampai jajaran kepolisian dan TNI sampai kewalahan mengatur mereka.

Menurut sumber sketsindonews, bagaimana dengan warga perumahan tersebut ? Tentu saja kami shock dan takut melihat mereka berkeliaran seperti itu di dalam perumahan mereka yang biasa sepi. Warga terlihat sangat terganggu dan ketakutan melihatnya, ujar Yuliana Rijanto.

Bagaimana tidak takut dan kuatir bila kita membuka pintu toko, tiba – tiba ada ratusan orang berdiri dan bahkan tiduran di emperan toko kita ?

Bagaimana dengan kebersihan dan sanitasi mereka ?
Ada yang sudah 1 minggu tidak mandi, “ampun dah”, terangnya.(14/7)

Begini telah disebutkan sebagian media massa sebelumnya para pengungsi dipindahkan ke lokasi yang lebih layak. Gedung Kodim bahkan hanya memiliki 5 toilet. Bagaimana bisa menampung 1100 pengungsi di dalam gedung itu ?

Warga pun menanyakan kepada dua instansi baik UNHCR dan Pemprov DKI, menurutnya ; Apakah tidak ada lokasi penampungan lain selain di dalam komplek perumahan warga di lingkungan kami ?

Selain itu pula Apakah Pemprov DKI dan UNHCR sudah mendiskusikan semua amdal dan dampak lingkungan sebelum memutuskan memindahkan mereka ? Karena yang terlihat adalah sama sekali tidak ada komunikasi antara UNHCR dan Premprov DKI Jakarta, bahkan terkesan lepas tangan dan ini membuat aparat dan jajaran di bawah menjadi kelimpungan.

Hal lain kata Yuliana, Apakah cara pemindahan para pengungsi SOP nya memang seperti itu ? Tiba – tiba dikirimkan pengungsi dan lepaskan mereka di sana ? Sama sekali tidak ada pemberitahuan apalagi mengenai sosialisasi sebelumnya dari pihak manapun sebelumnya, atau minimal Lurah, Camat, Kapolsek dan Danramil yang hadir dalam pertemuan itu.

Lanjut Yuliana, Apakah tak ada SOP untuk para pengungsi, bagaimana mereka harus bersikap, kapan mereka boleh keluar dari tempat penampungan dan sebagainya ? Karena para pengungsi ini ayam baru lepas kandang, berkeliaran dalam jumlah ratusan seperti itu di komplek warga yang biasanya sepi dan tenang, jelasnya.

Kita bisa bayangkan bagaimana kalau tiba – tiba ada 1000 orang datang ke perumahan tempat tinggal kita yang biasanya tenang ? Kini telah berubah saat ini silahkan datang di Perumahan Daan Mogot Baru di Kalideres.

Menurut Yuliana, “Betul kita harus berempati terhadap kondisi para pengungsi.
Tapi itu tidak membuat kita harus menerima mereka di dalam perumahan kita, dalam jumlah besar seperti itu”, tandasnya.

Maka tidaklah heran bila kami, Warga Daan Mogot Baru menolak dengan tegas sebagai penempatan pengungsi di dalam komplek perumahan kami, mengingat dampak sosial dan kesehatan yang akan terjadi. gesekan bahkan telah terjadi tanpa bisa dihindari.

nanorame