Home / Berita / Masih Berlanjut, Kasus Penamparan Terhadap Buruh

Masih Berlanjut, Kasus Penamparan Terhadap Buruh

Jakarta, sketsindonews – Ketua SBGTS GSBI PT PDK, Kokom Komalawati menyatakan bahwa kasus penamparan yang dilakukan oleh Kasat Intel Polres Tanggerang pada salah satu buruh, saat mengadakan aksi pada minggu 9 April 2017 lalu belum ada perdamaian. Hal tersebut diutarakan setelah salah satu media online memuat berita yang menyatakan bahwa pihak buruh dengan pelaku telah membuat perdamaian.

“Bukan perdamaian, tapi sekedar permintaan maaf,” jelasnya melalui pesan WhatsApp, selasa (11/4).

Menurutnya, media tersebut lebih memakai opini dalam penulisan berita yang di publish pada 10 April 2017 lalu. “Kejadian permintaan maaf disebutnya perdamaian. Foto yg ditampilkan adalah saya dan beberapa kawan di ruang kepolisian, tapi kutipannya hanya dari pihak kepolisian dan dari kami tidak dimintai klarifikasi,” ungkap Kokom.

Kokom membenarkan bahwa pada senin 10 April 2017 lalu memang ada pertemuan dengan Kapolres Tangerang. “Kapolres meminta maaf atas kejadian 9 April. Permintaan maaf kami terima,” jelasnya.

Tapi, menurut Kokom, proses hukum mesti berjalan. “Kami akan tetap memaksa proses hukum dijalankan,” ucapnya.

Lebih jauh Kokom menjelaskan bahwa keterlibatan pihak kepolisian dalam kasus buruh bukan sekali ini saja, terutama dalam kasus pemecatan 1300 buruh pembuat sepatu Adidas dan Mizuno di Panarub Group. Perlu diketahui, keterlibatan kepolisian dalam kasus perburuhan bukan sekali ini, terutama dalam kasus pemecatan 1300 buruh pembuat sepatu Adidas dan Mizuno di Panarub Grup. Bahkan, dalam Rekomendasi ILO disebutkan, Pemerintah harus melakukan investigasi independen tentang keterlibatan aparat keamanan dan paramiliter membubarkan aksi pada 12 Juli 2012.

“Jadi tindakan kekerasan polisi terhadap buruh mestinya tidak dilihat terpisah dan dianggap sebagai kesalahan biasa,” paparnya.

“Dalam logika umum saja, orang bersalah pasti dihukum. Contoh, seandainya kita ditilang lupa pakai helm polisi bisa melotot dan kita tetap ditilang. Permintaan maaf kita sia-sia,” tambahnya mencoba mencontohkan.

Dan untuk kasus pemparan 9 April 2017 lalu, dia menegaskan bahwa pelakunya adalah orang kuat bukam sipil biasa. “Pelakunya AKBP, Bukan orang sembarangan, Pasti Danu W Subroto (Kasat Intel Polres Tangerang-red) mengerti hukum. Makanan bergizi dan badan kuatnya tidak cukup mengatakan khilaf. Khilafnya AKBP Danu lebih memperlihatkan orang berkuasa kepada orang lemah. Menganggap orang lemah layak diperlakukan semena-mena,” ujarnya.

Terkait kelanjutan permasalahan tersebut, Kokom mengungkapkan bahwa kasus tersebut sudah dilaporkan Propam. “10 April, kami sudah ke Propam, kami sudah melengkapi berkas pelaporan,” ungkapnya. (Eky)

Check Also

10 Rumah Gang Buaya Karet Tengsin Tanah Abang Terbakar

Jakarta, sketsindonews – Musim panas disertai komdisi angin kembali menjadi rawan kebakaran ditengah pandemi. Baru …

Watch Dragon ball super