Home / Artikel / Indonesia Bukan Venezuela, Skenario Delegimasi Hasil Pemilu Manuver Politik Ugal – Ugalan

Indonesia Bukan Venezuela, Skenario Delegimasi Hasil Pemilu Manuver Politik Ugal – Ugalan

Jakarta, sketsindonews – Indonesia bukan negara Venezuela untuk di jadikan percobaan terkait demokrasi yang kini sudah  berjalan baik hingga pemilu serentak.

TKN Jokowi menilai Ijtima Ulama III Politik merupakan satu manuver politik  ugal-ugalan dan menyesatkan masyarakat dalam membangun Indonesia kedepan.

Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin menilai hasil Ijtima Ulama III yang meminta KPU dan Bawaslu mendiskualifikasi pasangan calon 01 adalah bentuk politik yang tidak terima bagi akal sehat, ujar Jubir TKN Ace Hasan Syadzily.(3/5)

“Pertemuan timses kubu 02 yang berkedok Ijtima Ulama jelas sebuah politik akal-akalan dan menseknariokan yang tujuannya justru menyesatkan umat,” tambah Politisi Golkar ini.

Menurutnya, kubu Prabowo melakukan segala upaya untuk tidak mengakui kekalahan versi hitung cepat mulai dari delegitimasi Komisi Pemilihan Umum (KPU), meminta pemilu ulang sampai meminta Jokowi didiskualifikasi.

“Mentalitas timses 02 yang tidak siap kalah membuat mereka kalap, tabrak kiri, tabrak kanan termasuk menggunakan lagi manuver yang diberi label Itjima Ulama,” ucap Ace.

Ia merasa heran dengan sikap timses Prabowo yang secara kasatmata mendelegitimasi KPU justru meminta penyelenggara pemilu mendiskualifikasi paslon 01. “Ini artinya mereka merengek-rengek pada lembaga yang kredibilitasnya sedang mereka hancurkan,” tuturnya.

Politikus Golkar ini kembali menandaskan, Ijtima Ulama III mengonfirmasi skenario kubu Prabowo menjelang 22 Mei, yakni meminta Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mendiskualifikasi paslon 01 dengan alasan kecurangan yang bersifat terstruktur, sistematis, dan Massif (TSM).

Sejalan dengan itu, kubu Prabowo juga disebut mengerahkan massa pendukungnya bermain presiden-presidenan. Skenario diskualifikasi ini, kata Ace, ingin menjalankan skenario Pilkada Kota Waringin Barat yang saat itu Bambang Widjajanto terlibat menjadi pengacara salah satu paslon.

“Dengan didiskualifikasi calon terpilih maka calon penantang yang otomatis dilantik. Akal bulus ini jelas tidak punya pijakan objektif karena kecurangan TSM yang mereka tuduhkan hanya ilusi tanpa fakta,” ucap Ace.

“Kita ingin gertak sambal Prabowo pada saat sengketa tahun 2014 yang mengklaim bawa bukti berkontainer ke MK. Nyatanya hanya ilusi. Jangankan bukti kecurangan, mengumpulkan C1 saja plintat-plintut. Ngaku-ngaku punya real count, tempatnya tidak jelas entah di mana. Skenario Kota Waringin Barat jelas halusinasi juga,” katanya.

Ace menambahkan, jika Bawaslu dan KPU tidak bisa mereka kendalikan, besar kemungkinan kubu 02 menghalalkan segala cara dengan aksi demo yang mereka sebut people power.

“Terlihat jelas 02 ingin mengulang skenario Venezuela dengan mobilisasi massa menentang presiden terpilih dan selanjutnya mengundang keterlibatan asing dalam masalah dalam negeri. Ini jelas manuver berbahaya bagi kedaulatan nasional dan masa depan demokrasi di negara kita. Indonesia bukan Venezuela,” katanya.

Menurut Ace, kemenangan paslon 01 versi hitung cepat sangat meyakinkan. Unggulnya perolehan suara Jokowi-Ma’ruf dari Prabowo-Sandi merupakan kemenangan atas hoaks dan ancaman otoritarianisme. “Jadi jangan bermimpi Indonesia dibuat seperti Venezuela,” ujarnya.

Sebelumnya, Ijtima Ulama III mengeluarkan lima rekomendasi untuk menyikapi dugaan kecurangan Pemilu 2019. Salah satu rekomendasi mereka ialah mendesak Bawaslu dan KPU untuk memutuskan membatalkan atau mendiskualifikasi paslon capres-cawapres 01.

nanorame

Check Also

Sebanyak 533 Taruna Akmil Kunjungi Mueum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala

Yogyakarta, sketsindonews – Sebanyak 533 taruna tingkat 1 dan IV Akademi Militer, Minggu (26/5) mengunjungi …

Watch Dragon ball super