Home / Berita / Yusril: Dengan Ditahannya Ahok, Maka Pemerintah Harus Berhentikan Sementara Ahok
Yusril Izha Mahendra (foto: Indowarta)

Yusril: Dengan Ditahannya Ahok, Maka Pemerintah Harus Berhentikan Sementara Ahok

Jakarta, sketsindonews – Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok akhirnya divonnis dua tahun penjara karena menurut majelis hakim, Ahok terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan penodaan agama terkait Surah Almaidah, melanggar Pasal 156a KUHP. Tidak hanya itu, Majelis Hakim juga memerintahkan agar Ahok dimasukkan ke dalam tahanan, yang harus dilaksanakan oleh jaksa penuntut umum.

Menurut Ahli Hukum Tata Negara Yusril Izha Mahendra, vonnis yang dijatuhkah majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara itu memang lebih berat dari tuntutan jaksa yang hanya menuntut Ahok dipidana 1 tahun dengan masa percobaan 2 tahun.

“Seperti saya katakan dua minggu yang lalu, hakim bisa saja menghukum Ahok lebih berat dari tuntutan jaksa. Vonis seperti itu disebut vonis ultra petita. Hakim beralasan bahwa mereka bertugas untuk menegakkan hukum dan keadilan. Karena itu, rasa keadilanlah yang dikedepankan, bukan sekedar tuntutan jaksa yang dibacakan di persidangan,” jelasnya melalui pesan WhatsApp kepada sketsindonews.com, selasa (09/5).

Menurutnya apapun vonis yang dijatuhkan pada seseorang, apalagi Ahok, pastilah menjadi vonis yang kontroversial.

Bagi yang suka, vonis itu dianggap terlalu berat. Mereka bahkan ingin agar terdakwa diputus bebas karena mereka anggap tidak bersalah.

“Sebaliknya, bagi mereka yang tidak suka, hukuman yang dijatuhkan kepada Ahok, pastilah dianggap terlalu ringan. Mereka, bahkan ingin agar terdakwa dihukum seberat-beratnya,” ujarnya.

Kalau kita bandingkan dengan kasus-kasus penodaan agama lain yang sudah divonis, Kata Yusril “vonis terhadap Ahok cukup ringan.”

“Beberapa kasus penodaan agama di Jakarta, Bali dan Pangkal Pinang, dijatuhi hukuman 4 tahun, lebih lama dua tahun dibanding Ahok,” tambahnya.

Terkait pernyataan banding yang di ajukan oleh Ahok pada pengadilan hari ini, Yusril mengatakab belum mengetahui sikap Jaksa.

“Dengan demikian, putusan ini belum inkracht van gewijsde atau belum berkekuatan hukum tetap,” jelasnya.

Karena itu, secara hukum berdasarkan asas praduga tidak bersalah, menurut Yusril sampai saat ini status Ahok masih belum jelas, apakah salah atau tidak salah, sampai ada putusan yang berkekuatan hukum tetap. “Bahwa secara awam, orang menganggap Ahok sudah bersalah, hal itu tentu dapat kita maklumi,” ujarnya.

Namun putusan Majelis Hakim PN Jakarta Utara itu, yang disertai perintah agar Ahok segera dimasukkan ke dalam tahanan. “Vonis “segera masuk” ini menurut pemberitaan media siang ini (Selasa 9/5/2017) telah dilaksanakan oleh Jaksa. Ahok sudah dibawa masuk ke Rutan Cipinang. Artinya, Ahok kini berstatus tahanan dengan putusan hakim sampai putusan pengadilannya mempunyai kekuatan hukum tetap nantinya,” paparnya.

Lebih jauh Yusril menyatakan, dengan ditahannya Ahok, maka Pemerintah harus memberhentikan sementara Ahok dari jabatannya yang akan berakhir bulan Oktober 2017 nanti.

“Nampaknya, proses banding dan kasasi yang dijalani Ahok belum akan selesai sampai Oktober, sehingga kemungkinan Ahok akan kembali menduduki jabatannya sampai bulan Oktober juga kecil kemungkinannya,” tandasnya. (Eky)

 

Check Also

Terdakwa Ijazah Palsu Dituntut 9 Tahun Denda 1 Miliar

Jakarta, sketsindonews – Kuasa hukum korban ijazah palsu yang diterbitkan Sekolah Tinggi Injili Arastamar atau …

Watch Dragon ball super