Pesan Panglima TNI : Kita Berada Dalam Ancaman Proxy War, Renungkan Rakyat Indonesia

oleh -150 Dilihat
oleh

Jakarta, sketsindonews – Proxy, mudahnya, artinya adalah ‘perwakilan’. “Proxy War”, artinya peperangan yang diwakilkan, atau mudahnya: peperangan yang memanfaatkan pihak lain.

Pihak yang berkepentingan terhadap perang itu sendiri *tak terjun langsung dalam medan *peperangan; hanya mengendalikan dari jauh, Begitu garis besarnya, papar Gatot Nurmantyo.

Pihak pengendali tak mau publik mengetahui identitasnya sebagai “pelaku perang” sebenarnya.

Sebaliknya, pihak yang dimanfaatkan juga umumnya tak tahu bahwa mereka hanya dummy, puppet, wayang, boneka, bidak catur yang diatur dalam skema strategynya.

Perang seperti ini sedang trend saat ini dan tengah menjadi metode baru yang terus dipelajari untuk meningkatkan efektivitasnya. Salah satu contoh, metode yang sudah terlihat membuahkan hasil gemilang adalah “Perang Suriah”.

Perang Suriah beberapa waktu yang lalu, adalah perang antara dua kubu yang berebut kepentingan dengan memanfaatkan negara Suriah, Pemerintah dan rakyatnya untuk terlibat perang.

Katalisnya adalah ISIS. Dalangnya sendiri hanya kadang-kadang saja muncul ke permukaan; sebagai pahlawan.

Kini Proxy War menjadi metode mutakhir karena memiliki kelebihan dalam hal efisiensi dan efektifitas. Misal: negara pelaku perang namanya tetap bersih, tambah Gatot.

Dia pun menambahkan, pasukan tidak banyak korban, karena menggunakan tenaga lain atau kaki kaki lain sebagai bidaknya.

Pelaku ingin namanya tetap bersih karena penting bagi reputasi di dunia ekonomi dan politik. Negara yang terlihat jahat tentunya akan menimbulkan resistensi dalam pergaulan Ekonopolitik.

Mereka juga tak harus mengorbankan nyawa pasukannya. Nyawa pihak lain lebih mudah dan kadang lebih murah. Politik yang digunakan adalah propaganda, agitasi, provokatif tentang pembenaran.

Untuk diketahui dalam aktifitas nya jenis perang: membela agama atau sifat perang: jihad. Mati sebagai martir: syahid. Hadiah: masuk surga yang selama ini kita temukan.

Ada juga konon dengan terang-terangan diminta untuk mati “Syahid”, misal dengan bom bunuh diri, dengan kompensasi bahwa keluarga calon yang bunuh diri akan diberikan sejumlah uang dan insentif lainnya (selain hadiah otomatis bahwa sang calon akan masuk surga plus bonus lainnya, apa yang pernah tertuang bertemu 27 bidadari

Tidakkah hal ini sungguh menguntungkan bagi “pembeli perang” , Selain nyawa lebih murah, karena memanfaatkan pihak lain untuk bertempur dengan saudaranya sendiri, elemen biaya lain juga lebih murah, misal: tak usah menggunakan senjata canggih dan mahal.

Hanya Cukup dengan bom molotov yang dilempar ke rumah peribadatan (Gereja, Masjid, tempat keramainnya lainnya.

Gatot juga menyinggung efektifitas gerakan ini, dalam hal penghematan lainnya adalah dari biaya transportasidan akomodasi.

Mereka tak harus mengekspor personil tentara terangnya dalam mengangkutnya dengan pesawat canggih, dan membuat markas dan seluruh fasilitasnya bagi pekerja Bule yang biayanya lebih tinggi daripada biaya akomodasi orang lokal.

Singkat kata, terang Gatot metode ini menawarkan banyak kemanfaatan dibanding perang yang dilakoni sendiri. Pelaku perang juga tak harus mengotori tanah sendiri dengan darah dan asap mesiu seperti perang zaman dulu yang saling balas berbalas memerangi dengan datang langsung ke negara yang ditargetkan sebagai sasaran.

Saat ini kita sedang melalui proses perang inilah yang tengah direncanakan untuk terjadi di Indonesia.

Pelakunya sendiri tak terlihat, invisible hands.Yang jadi “korban” demi kepentingan mereka adalah “rakyat kita” yang nantinya akan menderita dalam sejarah, yakni perang menggunakan darah kita, keringat kita, amarah kita, nyawa kita, tanah kita, ruang kita, waktu kita, senjata kita, kenaifan kita dan kemunafikan, tutup Gatot Nurmantyo. (Nr)

No More Posts Available.

No more pages to load.