Om Sepi Om Pasar Lenggang Kemayoran

23.6K pembaca

Jakarta,sketsindonews – Lokasi Pasar Lenggang Kemayoran usai di resmikan Sekda DKI Jakarta H.Saefullah pada tanggal 29 Desember 2016 yang lalu kini kondisinya jauh dari harapan sebagai Wisata Kuliner berkelas.

Pasalnya sejumlah pedagang saat di temui sketsindonews tertunduk lesu “Om Sepi Om,” ucapnya.

Berharap kami makan di tempatnya karena baru Om nih yang mampir kedai kami.

Gambar

Sebut saja Lasmi (34), dirinya merasa kuatir dagangan rica rica hingga saat ini terus tak ada pembeli. (5-1-2017)

Dipihak lain saat sketsindonews menanyakan data jumlah pedagang kuliner kepada Kasie Ekonomi Kelurahan Kebon Kosong Wintha Frilliani memaparkan, pendataan pedagang sudah valid dan terisi, dimana saat tanggal 14 Desember 2016 sebanyak 98 etalase, yang hadir dalam undian sebanyak 85 orang pedagang, ucapnya.

Ada juga yang tidak datang dengan berbagai alasan, namun 27-28 Desember 2916 kami lakukan pengundian ulang.

Kondisi sekarang diakuinya sepi karena kami sendiri memantau sempat berdialog dengan pedagang pasar Lenggang.

Pasar Lenggang merupakan realokasi prioritas antara pedang jiung dan Masjid Akbar, tapi entahlah hingga kini counter plong termasuk non kuliner, tandasnya.

Ada kekuatiran pedagang karena sepinya akhirnya mereka wait in see, kuatir dirinya pindah akan bernasib sama meratap harapan kosong.

Sementara Kadis UMKM Provinsi DKI Jakarta Irwandi saat dihubungi sketsindonews.com juga merasa heran kok bisa sepi, katanya.

Ini harus segera di cari solusinya, Kasudin UMKM Jakarta Pusat harus menelaah apa pasalnya untuk segera melakukan konsep serta terobosan.

Sementara Komunitas Kota Tua Hendri Chaniago berpendapat, sepinya pasar lenggang Kemayoran harus di cari solusi selain infrastruktur kawasan itu tidak representative (rampung) secara operasional.

Selain pengelolaan kawasan pasar Lenggang harus jelas, selama ada dualisme pemgelolaan antara Kuliner dan Non Kuliner, konsep wisata entreprunership tidak akan berjalan, tuturnya.

Kalo itu CSR sudah rampung serahkan saja pada pengelolaan yang professional yang terintegrasi sehingga apa yang menjadi kekurangan pembangunan fasilitas dapat terpenuhi secara baik.

Hendri menambahkan, kekumuhan itu masih nampak, bagaimana itu menjadi tempat tongkrongan enak, kalo tidak ada pemaksaan yang radikal bagi konsep entertainment mengembangkan secara profesional pasar 24 jam, tutupnya. (Nr)

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap