Jakarta, sketsindonews – Pengamat perkotaan Nirwono Yuga, mengatakan bahwa curah hujan saat ini belum dikatagorikan sangat tinggi di puncaknya namun dampak keparahan banjir begitu terasa di wilayah DKI Jakarta.
“Sebanyak 80 titik banjir Jakarta melanda kawasan selain pemerintah DKI Jakarta hingga tahun 2020 belum melakukan normalisasi, naturalisasi terhadap wiayah pemukiman bantaran kali. Ini menjadi penyebab utama selain faktor drainase wilayah pemukiman warga hanya berfungsi 30% dari apa yang sudah dilakukan Pemprov DKI Jakarta,” pungkasnya.(1/1/20)
Debet air tinggi di bantaran kali menjadi penyebab sehingga mengakibatkan banyak wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur menjadi terparah.
“Faktor lain 2 wilayah ini dulunya menjadi titik resapan air cekungan sehingga otomatis air akan mengalir pada kawasan rendah dan menjadi banjir kawasan tersebut,” kata Yoga.
Sementara banjir pada lingkungan kota yang menjadi penyebab utama dikarenakan fungsi saluran tidak maksimal dipenuhi sampah maupun tumpukan lain dalam satu saluran kabel-kabel sehingga atus debet air menjadi terhambat .
Sambung Yoga kejadian ini menjadi momentum untuk Pemprov DKI melakukan penataan kawasan pinggiran kali jika kedepannya tidak menjadi lebih parah.
Sejak banjir tahun 2007 ini menjadi terparah apa yang dikatakan publik menjadi satu kenyataan sehingga antisipasi dalam waktu cepat dalam seminggu ini Pemprov DKI harus sudah melakukan titik evakuasi warga bagi warga bantaran kali termasuk melakukan realokasi normalisasi pemukiman di kawasan lain.
Kedua sudah harus menata kawasan dan melakukan pembebasan kawasan aliran sungai (kali) bersama pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR.
“Segera mungkin, jika tidak Jakarta akan tetap mengalami banjir dan lebih parah bila musim hujan lebih tinggi diperkirakan sumber BMKG bulan Januari hingga Februari 2020 menjadi puncak hujan,” saran Yoga.
(Nanorame)










