Jakarta, sketsindonews – Pemerintah telah mengambil langkah tepat terhadap perkuatan ekonomi Indonesia dalam kondisi pandemi melanda dunia.
Perkuatan perbankan dinilai tepat menopang ekonomi Indonesia bertahan ditengah krisis yang melanda sisi perkuatan ekonomi akibat pandemi Covid-19.
Dalam sebuah diskusi, Senin (13/7/20) Pengamat Ekonomi atau Praktisi Perbankan, Andrew Parengkuan mengatakan, perekonomian global mengalami pukulan besar karena Pandemi Covid-19.
“Hampir semua sektor merasakan keterpurukan itu,” paparnya.
Lalu, bagaimana dengan dunia perbankan di Indonesia ? Seberapa jauh sektor perbankan kita terdampak krisis ini?
Kata Andrew lebih lanjut, masalah perbankankali ini tidak bisa disamakan dengan krisis moneter di tahun 1998.
“Saat ini kita lebih siap menghadapi krisis, terutama dalam hal pengawasan. Terbukti dengan adanya lembaga seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan banyak lagi. Dengan demikian perbankan tetap berjalan sesuai dengan ‘rules’-nya,” kata pria yang sudah puluhan tahun bergelut sebagai praktisi perbankan ini.
Andrew menambahkan, kondisi yang relatif baik ini terbukti dengan CAR (Capital Adequacy Ratio atau rasio kecukupan modal) Perbankan saat ini ada di angka 22.08 persen, menurut catatan April 2020 minus negatif.
“Bila kita bandingkan kondisi krisis saat tahun 1998 jelas sangat berbeda, dimana kondisi itu banyak nank yang CAR-nya di bawah 4 persen,” jelasnya.
Ia menggarisbawahi langkah cepat pemerintahan Presiden Jokowi yang dengan sigap telah membuat rambu-rambu jasa keuangan tetap menjadi kuat karena rutinas pelaporan bank dilakukan secara rutin perbulan sehingga bisa menjadi antisipasi penyimpangan korupsi.
(Nanorame)











