1447 H
رمضان كريم
Marhaban Ya Ramadan
Semoga bulan suci ini membawa keberkahan, kedamaian, dan ampunan bagi kita semua.
✦ Mari sucikan hati, perbanyak ibadah, dan pererat silaturahmi ✦
Hengki Lumban Toruan
HENGKI LUMBAN TORUAN CEO & Founder Sketsa Indonesia

Belajar di Gudang Tembakau, Guru Sumenep Beri Motivasi Protokol

oleh
9.7K pembaca

Sumenep, sketsindonews – Proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi corona atau Covid-19 masih berlangsung. Guru di daerah tidak ingin anak didiknya kecolongan pelajaran akibat terkendala handphone. Cara yang dilakukan dengan mengumpulkan anak lalu memberi pelajaran di luar sekolah. 

Demikian dilakukan Widayanti seorang guru di SDN Kapedi 1, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep. Menariknya, ia mengumpulkan muridnya di sebuah gudang tembakau. Pertemuan tatap muka ini, Widayanti memberi motivasi protokol. 

“Murid tidak boleh bersentuhan dan berdekatan, kemudian diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa face shield,” kata Widayanti kepada sketsindonews, Senin (27/7/20). 

Gambar

Menurutnya, gudang tembakau tersebut hanya sebagai sarana pertemuan. Sebab bila diletakkan di sekokah, sudah jelas belum diberi izin, mengingat intruksi Mendikbud Nadiem Makarim, sekolah masih diliburkan dan siswa harus belajar dari rumah. 

“Gudang ini milik salah satu wali murid. Sebelumnya sudah minta izin untuk meminjam lokasi. Sehingga setiap pagi, kunci pagar sudah terbuka,” ungkap guru yang juga aktif di kepengurusan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Persatu Guru NU (Pergunu) Pragaan. 

Ia menyampaikan, dalam sepekan, kegiatan belajar hanya berlaku tiga hari, yakni senin, selasa, dan rabu. Sisanya siswa belajar menggunakan daring. Saat belajar, siswa tetap dipantau ketat untuk menjaga jarak dan menggunakan APD face shield. 

Ia mengungkapkan, metode yang diterapkan tersebut adalah metode murid kunjung. Murid tetap belajar daring, namun sambil lalu berkunjung dan berkumpul dengan teman-temannya. Hanya metodenya bukan seperti sekolah aktif, melainkan guru menggunakan sistem murid kunjung. 

Artinya selain siswa belajar menggunakan sistem daring, guru memberi waktu bertatap dalam hari-hari tertentu. Manfaatnya, siswa dapat berkonsultasi soal pelajaran selama daring di rumah. 

Belajar dengan metode murid kunjung murni digagas Widayanti. Itu dilakukan setelah dirinya banyak mendapat masukan dari orangtua siswa agar cara belajar anaknya bisa diawasi. 

“Makanya kami menaruh siswa untuk belajar di gudang. Lagian rumah siswa jaraknya juga tidak jauh dari sekitar lingkungan di sini. Apalagi sistem ini memang sangat didorong oleh orangtua siswa,” ujar dia. 

Sementara itu, orangtua siswa Nikmah mengaku lebih leluasa jika sekolah segera diaktifkan. Sebab sistem daring yang diterapkan, akhir-akhir ini disebut kurang produktif. Penyebabnya saat di rumah, siswa lebih banyak bermain. 

“Kalau ada pertemuan kayak gini, enak. Anak bisa belajar dan berkumpul bersama teman-temannya. Kalau di rumah, belajarnya kurang teratur,” ujarnya. 

Nikmah mengungkapkan, belajar menggunakan sistem daring, semakin menambah beban. Di antaranya, menuntut orang tua harus memiliki handphone berjenis android. Sementara bagi yang tidak memiliki, justru akan lebih banyak meminjam. 

“Android ada, hanya tiap hari tidak punya paketan pulsa. Jadinya minta wifi kepada tetangga,” pungkasnya. 

(nru/pwk) 

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap