Jakarta, sketsindonews – Ketua Majelis Selawat Al-Hijrah Mudarris memiliki segudang cara untuk dapat merangsang pemuda cinta Rasulullah, salah satu adalah dengan mendirikan mejelis taklim selawat.
Visi tersebut pada dasarnya dibangun sebagai upaya membentengi kaum muda dari dampak negatif interaksi sosial. Sebab bagi pria yang akrab disapa Gus Daris, hidup pada dasarnya akan diselimuti ketenangan jiwa serta manisnya iman dalam taat dalam beribadah.
“Doa menjadi lebih mudah terkabul apabila selalu diiringi dengan shalawat. Disinari oleh pancaran cahaya iman, rahmat, dan keberkahan. Kehidupannya akan diriingi oleh semangat juang tinggi dalam beribadah,” ungkap Gus Daris dalam keterangannya, Senin (19/10/20) malam.
Dari itu, Gus Daris mengajak setiap elemen masyarakat bersinergi untuk senantiasa menyukseskan kegiatan selawat. Karena tidak lain bahwa kepentingan ini juga merupakan kebaikan anak cucu di masa depan.
“Barangkali dengan suka dan seringnya berselawat, Allah berkenan memperbaiki keadaan generasi bangsa yang sudah mulai memprihatinkan,” ujarnya.
Itulah cara berpikir orang yang satu ini. Kiai muda yang lahir di daerah pantura ada saja strategi dalam berdakwah. Ia selalu berpikir di luar kotak dalam memecahkan masalah.
Pemuda di Benak Gus Daris
Gus Daris punya canda yang khas dan suara yang menggelegar menjadi kelebihan tersendiri dalam berdakwah dan berpidato di mimbar. Sehingga kelebihan tersebut dimanfaatkan. Tak ayal, kelebihan ini pun telah mampu membangun popularitasnya di masyarakat.
Perkembangan zaman dengan pengaruh informasi dan teknologi yang begitu masif, Gus Daris melihat ada gejala yang kurang baik di tataran pemuda.
“Melihat pergeseran pola pikir pemuda yang cenderung negatif membuat kami berpikir ekstra keras untuk menyelamatkan generasi bangsa ini. Setidaknya di daerah Pantura, kami harus mampu mengubah perilaku pemuda menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Menurutnya pola pikir pemuda saat ini memang sudah jauh bergeser. Kecenderungan dalam memilih tontonan juga sangat berpengaruh besar terhadap perilakunya.
Dengan begitu, pola tersebut harus diimbangi dengan tontonan yang menyediakan tuntunan sekaligus. Sebab, ia menyadari tuntunan saja tidak cukup tanpa tontonan karena para remaja tidak suka dengan hal itu.
“Meminimalisir kenakalan remaja dengan cara menanamkan kecintaan pada Nabi Muhammad SAW adalah salah satu cara yang baik untuk kita tanam,” pungkasnya.
(nru)






