1447 H
رمضان كريم
Marhaban Ya Ramadan
Semoga bulan suci ini membawa keberkahan, kedamaian, dan ampunan bagi kita semua.
✦ Mari sucikan hati, perbanyak ibadah, dan pererat silaturahmi ✦
Hengki Lumban Toruan
HENGKI LUMBAN TORUAN CEO & Founder Sketsa Indonesia

Sudin KPKP Jakarta Pusat Tangkis Isu Cabe Berwarna dan Monitor Tahu Tempe di Pasar Tradisional

oleh
Pedagang tahu saat menjajakan dagangan di pasar. (Foto Istimewa)
7.7K pembaca

Jakarta, sketsindonews – Kenaikan kacang kedelai import membuat pengrajin tempe terpaksa menaikan harga disejumlah pasar tradisional mengingat kelangkaan mendapatkan kacang kedelai.

Atas hal tersebut Plt. Kepala Suku Dinas KPKP Jakarta Pusat Mujiati sekaligus Kabid Pertanian DKI akhirnya melakukan inspeksi mendadak (sidak), Selasa (05/01/21) untuk melihat langsung beberapa titik pasar di 8 Kecamatan Jakarta Pusat serta melihat langsung dampak harga tempe dipasaran serta pengrajin.

Mujiati juga lakukan pengawasan komoditas harga cabe dan tahu tempe dimana harga terus tidak stabil. “Pertama yang kita monitor cabe rawit merah dan yang kedua tempe dan yang ketiga tahu yang beredar di sejumlah pasar Gondangdia ini,” ucapnya.

Gambar

Dia menambahkan dimaksud kegiatan sidak untuk merespon cepat pemberitaan yang marak tentang cabe yang diberi pewarna serta langkanya komodotas tahu tempe akibat mogoknya para pengrajin tahu tempe berproduksi dikarenakan mahalnya harga kacang kedelai.

“Ini sangat tidak manusiawi jika benar adanya isu pemberitaan yang ada di media tentang adanya oknum yang memberikan pewarna kepada cabe entah, tetapi pada saat kita monitor di pasar ini, tadi kita tidak menemukan hal tersebut bahwa isu Cabe dikasih pewarna,” paparnya.

“Kita yakini dipasar Cabe pewarna itu tidak beredar di pasar tradisional di wilayah DKI Jakarta, bahwa warna merah yang ada di cabe itu merupakan warna asli cabe. Hari ini kami lakukan pengawasan seperti ini di 12 pasar yang ada di Jakarta Pusat,” tandas Mujiati.

Sementara Imla Hasanah D selaku Kepala Pasar Gondangdia mengatakan bahwa pihaknya telah beberapa hari memantau komoditas tempe tahu yang sempat menghilang karena mogoknya pengusaha tahu tempe berproduksi selama tanggal 1 hingga 3 Januari 2021.

Ia menuturkan bahwa alasan para pengusaha berhenti adalak kenaikan harga baban baku kedele import dari Rp.7200 menjadi Rp.9.200, bahkan Rp 12.000 perkilohari ini.

Tapi saat ini para pengrajin sudah berproduksi “jadi akan dilakukan kenaikan harga tempe dan tahu, kemungkinan 20 % hingga 30 % dipasar tradisional. Selain kegiatan pedagang saat ini ditengah pandemi banyak sejumlah pedagang yang masih aktif berjualan tingkat omzet turun drastis.

“Dari 264 pedagang yang tercatat saat ini, turun hingga rata rata hanya 120 pedagang saja yang aktif lakukan kegiatan transaksi pasar,” kata Imla.

(Nanorame)

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap