Sumenep, sketsindonews – Proyek pompa air tanpa motor (PATM) di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, rusak diterjang banjir. Padahal proyek senilai Rp 4,8 miliar tersebut baru tiga bulan diresmikan.
Akibat kejadian ini di sekitar proyek membuat tanah dibagian sisi selatan sungai amblelas, karena arus air serta curah hujan yang tinggi membuat sejumlah pohon di sekitar proyek yang berlokasi di Desa Lebbeng Barat, Kecamatan Pasongsongan, banyak yang tumbang.
Berdasarkan pengakuan warga, Mohammad Bahar (44), banjir jadi salah satu pemicu proyek gagal fungsi. Banjir itu pula menjadi bencana alam terparah di tahun 2021 ini.
“Apalagi hujannya yang sangat deras. Kalau banjir bandang memang setiap tahun,” kata Bahar, saat ditemui wartawan, Jumat (22/1).
Semula ia menilai, adanya pembangunan pompa air tersebut telah bermanfaat bagi banyak masyarakat. Sayangnya, tak bertahan lama akibat faktor alam yang kurang bersahabat, saat ini pompa air tersebut sudah rusak dan tidak lagi berfungsi.
“Hujan yang bertubi-tubi ini yang membuat banjir terjadi. Banjir tahun ini lebih besar dari tahun yang sebelumnya,” katanya.
Disisi lain, soal banjir bandang yang membuat PATM gagal fungsi, para pekerja termasuk dirinya mengaku kesulitan saat mengangkut material ke lokasi pekerjaan proyek.
Sebanyak 30 orang pekerja dari warga setempat sudah dengan gigih menerima hukum alam. Medan yang cukup licin, kata dia, tetap dikerjakan sebaik mungkin.
“Tapi jika melihat cuaca, saat hujan lebat tidak dikerjakan. Materialnya ditempatkan di pemukiman warga. Kendalanya hanya hujan. Tapi kami bersyukur adanya PATM ini,” akui dia.
Warga lain juga menganggap, jalan terjal menjadi kendala terselesainya PATM dari target yang semula akan tepat waktu menjadi molor. Hal itu dikatakan Sura’is (60), material proyek sedikit lambat masuk ke lokasi pengerjaan.
“Kesulitannya ya dari jalan ini. Kalau hujan sudah pasti sulit masuk,” ujarnya.
Kepala Dinas PU SDA Kabupaten Sumenep Chainur Rasyid, melalui Kepala Bidang (Kabid) PPSDA dan Binman, Agus Ribut Susanto menerangkan, jika kerusakan material pompa air itu memang disebabkan oleh faktor alam.
Ia mengaku, pemerintah telah berkoordinasi dengan pihak rekanan untuk segera memperbaiki.
“Kondisinya disana memang tanahnya di area tanah belum ada tebing, maka dimungkinkan gampang ambles,” katanya.
Dari kerusakan itu, pihaknya mengatakan telah dalam proses perbaikan. Sebab, akibat kendala hujan, proses dikontruksi bangunan menjadi syarat kendala para pekerja mengangkut bahan material ke lokasi.
“Saat ini dalam proses perbaikan,” ungkapnya.
Menurutnya, setelah dilakukan lelang, pemenang tender tersebut jatuh pada CV. Sady Family sebagai pelaksana, dengan nomor SPK/Kontrak : 602.1/01/.PATM-L.KT/435.110.2/2020. Pekerjaan proyek dengan volume satu paket itu ditarget dengan masa pelaksanaan 150 hari kalender.
PATM ditaksir akan bermanfaat bagi warga secara menyeluruh, tidak hanya Desa Lebbeng Barat, namun Desa tetangga meliputi Lebbeng Timur, Prancak, dan Montorna juga akan merasakan dampaknya.
PATM memiliki 17 pompa air dengan satu tandon. Daya tampungnya pun bisa mencapai hingga 72 liter. Sementara, daya isi tandon saat mengisi air hanya memerlukan waktu 50 menit.
Ada dua bendungan PATM yang terdiri dari bendungan I dengan 7 pompa, dan dendungan II 10 pompa. Jika dijumlah, terdapat 17 pompa. Jarak 17 pompa itu, langsung menuju tandon dengan ketinggian permukaan 72 meter dari tanah.
PATM yang digarap sejak tanggal 28 April 2020 itu berakhir pekerjaannya pada 12 November 2020 lalu. Namun, tiga bulan dari peresmian, bencana alam tak terduga melanda proyek tersebut.
(nru/skt)






