1447 H
رمضان كريم
Marhaban Ya Ramadan
Semoga bulan suci ini membawa keberkahan, kedamaian, dan ampunan bagi kita semua.
✦ Mari sucikan hati, perbanyak ibadah, dan pererat silaturahmi ✦
Hengki Lumban Toruan
HENGKI LUMBAN TORUAN CEO & Founder Sketsa Indonesia

Indonesia Pimpin Upaya Regional Lawan Dampak Perubahan Iklim Lewat Kongres APAAACI 2025

oleh
27.5K pembaca

Asosiasi Alergi, Asma, dan Imunologi Klinis Asia Pasifik (APAAACI) bersama Perhimpunan Alergi dan Imunologi Indonesia (ISAI) menggelar APAAACI 2025 di Hotel Fairmont Jakarta, pada 9–12 Oktober 2025.

Kongres internasional ini mengusung tema “Kesatuan dalam Keberagaman: Memajukan Sains dan Inovasi dalam Alergi, Asma, dan Imunologi dari Genetika hingga Terapi Berbasis Sel.”

Acara dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, didampingi Deputi Pariwisata RI Vinsensius Jemadu, Prof Ruby Pawankar (Executive Director dan mantan Presiden APAAACI), Prof Amir HA Latif (Ketua Kongres APAAACI), dan Prof Iris Rengganis (Ketua Perhimpunan Alergi dan Imunologi Indonesia).

Gambar

Dalam sambutannya, Menko PMK Pratikno menegaskan pentingnya inovasi medis, pemerataan akses layanan, dan kolaborasi global dalam menghadapi tantangan penyakit respirasi dan imunologi.

“Inovasi tanpa akses adalah janji yang tak terpenuhi. Kita harus membangun sistem kesehatan yang maju sekaligus adil,” ujar Pratikno.

Ia juga menyoroti pentingnya kerja sama lintas negara dalam riset, berbagi data, dan harmonisasi regulasi untuk menghadapi ancaman global seperti perubahan iklim dan polusi udara.

Alergi dan Asma Jadi Krisis Kesehatan Dunia

Direktur Eksekutif APAAACI, Prof Ruby Pawankar, menyebut penyakit alergi kini menjadi isu kesehatan global utama. Kondisi ini mencakup anafilaksis, alergi makanan, asma, rinitis, konjungtivitis, urtikaria, eksim, hingga alergi obat dan serangga.

“Perubahan iklim adalah krisis kesehatan global. Dampaknya terasa bukan hanya di paru-paru, tapi juga pada sistem imun manusia,” ujarnya.

Data dunia mencatat 300 juta orang menderita asma, 200–250 juta orang alergi makanan, dan 400 juta orang mengalami rinitis. WHO melaporkan asma menyebabkan sekitar 250 ribu kematian setiap tahun.

Asia Pasifik, yang menampung dua pertiga populasi dunia, menjadi wilayah dengan beban terbesar penyakit alergi dan asma. Di Indonesia sendiri, kasus asma dan alergi berat terus meningkat, diperparah oleh polusi udara dan kabut asap lintas batas.

Seruan Aksi Global Hadapi Krisis Iklim dan Kesehatan

Kongres APAAACI 2025 juga menghasilkan sejumlah seruan aksi global, di antaranya:

  • Tindakan segera menghadapi perubahan iklim di seluruh sektor.
  • Kebijakan untuk mengurangi bahan bakar fosil dan menekan polusi udara.
  • Mitigasi melalui efisiensi energi dan pengurangan paparan bahan beracun.
  • Edukasi publik tentang pola makan sehat untuk pencegahan alergi.
  • Penerapan pendekatan One Health yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
  • Pembentukan konsorsium internasional untuk kolaborasi riset mitigasi iklim.

Prof Ruby menegaskan APAAACI aktif mengangkat isu perubahan iklim dalam konteks kesehatan. “Kami telah menerbitkan white paper pada 2020 terkait perubahan iklim, polusi udara, dan keanekaragaman hayati, serta bekerja sama dengan WHO dan UNEP,” katanya.

Indonesia Tunjukkan Kepemimpinan Regional

Ketua ISAI, Prof Dr Dr Iris Rengganis, SpPD-KAI, menyebut penyelenggaraan APAAACI 2025 di Jakarta menjadi bentuk pengakuan dunia terhadap peran aktif Indonesia di bidang kesehatan lingkungan.

“Menjadi tuan rumah bukan hanya soal kapasitas penyelenggaraan, tetapi juga komitmen memperkuat kolaborasi antarnegara untuk mencari solusi atas krisis iklim dan kesehatan,” ucapnya.

Dengan partisipasi ratusan pakar internasional dan regional, APAAACI 2025 menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk berperan dalam memajukan riset, edukasi, dan kebijakan kesehatan yang berkelanjutan di tingkat global.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap