Penanganan Kayu Sisa Bencana Dipercepat, Dukung Pemulihan Warga

oleh -41 Dilihat
oleh

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus mengintensifkan penanganan kayu hanyutan dan material sisa bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah terdampak di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara sejak awal Desember 2025. Upaya ini dilakukan secara terpadu bersama TNI, Polri, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan.

Di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, tim gabungan Kemenhut mengerahkan 28 unit alat berat untuk membersihkan tumpukan kayu yang menghambat akses jalan, permukiman warga, dan fasilitas pendidikan. Hingga hari ke-16 penanganan, Senin (5/1/2026), kayu yang telah terdata dan layak dimanfaatkan mencapai 300 batang dengan total volume 469,26 meter kubik.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Subhan, menyampaikan bahwa penanganan difokuskan pada lokasi yang berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat.

Gambar

“Kami memprioritaskan pembersihan kayu yang menghalangi akses jalan, permukiman, dan fasilitas umum. Kayu yang masih bernilai guna kami pilah dan data agar dapat dimanfaatkan secara tertib untuk kebutuhan darurat warga,” ujar Subhan.

Pemanfaatan kayu sisa bencana tersebut telah mendukung pembangunan hunian sementara (huntara). Hingga kini, satu unit huntara telah selesai dibangun, sementara dua unit lainnya masih dalam proses pengerjaan.

Sementara itu di Sumatera Utara, penanganan pascabencana difokuskan di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol, Kabupaten Tapanuli Selatan. Tim gabungan mengerahkan 20 unit alat berat dan 10 unit dump truck untuk pemilahan kayu, normalisasi Sungai Garoga, pembersihan rumah warga, serta penataan lingkungan. Sejumlah segmen pemilahan kayu bahkan telah mencapai progres 100 persen sesuai peta kerja.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, menjelaskan bahwa penanganan kayu dilakukan seiring dengan penyiapan hunian bagi masyarakat terdampak.

“Selain pembersihan dan pemilahan kayu, kami juga mendukung penyiapan lahan untuk hunian sementara dan hunian tetap. Kayu yang terdata akan dimanfaatkan sesuai ketentuan untuk kebutuhan darurat masyarakat,” jelas Novita.

Hasil pengukuran sementara di wilayah Garoga mencatat 426 batang kayu bulat dengan volume 253,85 meter kubik, serta kayu gergajian sebanyak 154 keping dengan volume 4,236 meter kubik.

Adapun di Sumatera Barat, Kemenhut melalui UPT setempat bersama Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dan Dinas Kehutanan Provinsi melakukan identifikasi dan pendataan kayu hanyutan di Pantai Padang serta di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Kuranji dan Sungai Air Dingin.

Kepala BKSDA Sumatera Barat, Hartono, mengatakan bahwa proses pendataan masih berlangsung.

“Saat ini kami masih menghitung jumlah dan jenis kayu hanyutan di beberapa lokasi. Data ini akan menjadi dasar pemanfaatan kayu sisa bencana setelah tim pemanfaatan ditetapkan melalui Surat Keputusan Gubernur,” ungkap Hartono.

Kemenhut memastikan penanganan pascabencana akan terus dilanjutkan dengan pembaruan data secara berkala guna menjamin pemanfaatan kayu sisa bencana berjalan tertib, transparan, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat terdampak.

No More Posts Available.

No more pages to load.