1447 H
رمضان كريم
Marhaban Ya Ramadan
Semoga bulan suci ini membawa keberkahan, kedamaian, dan ampunan bagi kita semua.
✦ Mari sucikan hati, perbanyak ibadah, dan pererat silaturahmi ✦
Hengki Lumban Toruan
HENGKI LUMBAN TORUAN CEO & Founder Sketsa Indonesia

Kemenhut Manfaatkan Kayu Hanyutan untuk Huntara Pascabencana

30.4K pembaca

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus mengoptimalkan pemanfaatan kayu hanyutan pascabencana hidrometeorologi di Aceh Utara dan Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Langkah ini dilakukan sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 863 Tahun 2025 tentang Pemanfaatan Kayu Hanyutan Akibat Bencana Banjir untuk mendukung rehabilitasi dan pemulihan wilayah terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, pemilahan dan pemanfaatan kayu hanyutan dilakukan dengan dukungan 35 unit alat berat. Alat berat tersebut terdiri dari 30 unit milik Kemenhut, 4 unit dari TNI, serta 1 unit dari Kementerian PUPR. Seluruhnya difokuskan untuk membersihkan lingkungan warga serta memilah kayu yang berada di darat dan aliran sungai agar dapat dimanfaatkan secara optimal.

Hingga 6 Januari 2026, kayu hanyutan yang telah diukur dan dinyatakan layak dimanfaatkan di Aceh Utara mencapai 454 batang dengan total volume 730,95 meter kubik. Pemanfaatan ini dilakukan secara tertib dan terkontrol guna mendukung kebutuhan masyarakat terdampak.

Gambar

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Subhan, menyampaikan bahwa dukungan alat berat mempercepat proses pemilahan sekaligus menjaga aspek keselamatan. “Kayu hanyutan yang layak kami manfaatkan untuk kebutuhan darurat warga, termasuk pembangunan hunian sementara,” ujarnya.

Kayu hasil pemilahan dimanfaatkan untuk pembangunan hunian sementara (huntara) berbasis kajian Universitas Gadjah Mada (UGM). Hingga kini, pemanfaatan kayu oleh masyarakat dan lembaga kemanusiaan mencapai 28,86 meter kubik, dengan dua unit huntara dalam proses pembangunan dan satu unit telah selesai dibangun.

Sementara itu, di Kabupaten Tapanuli Selatan, pemanfaatan kayu hanyutan dilakukan di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol dengan dukungan 20 unit alat berat dan 10 unit dump truck. Kayu yang diolah digunakan untuk mendukung pengungsian dan penanganan darurat.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, menegaskan bahwa seluruh proses dilakukan sesuai ketentuan. “Sebanyak 430 keping kayu olahan dengan volume 6,95 meter kubik dimanfaatkan sebagai alas lantai 267 unit tenda darurat. Penatausahaan dan pengawasan terus kami lakukan agar tepat sasaran,” jelasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap