12.890
pembaca
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa upaya menekan kejahatan, kemiskinan, dan pengangguran harus dimulai dari hulu, salah satunya melalui penguatan sektor pertanian. Hal itu disampaikan Mentan Amran saat menghadiri Panen Raya Jagung Kuartal I 2026 Program Swasembada Jagung di Tembong Gunung, Desa Sukamahi, Kecamatan Cikarang Pusat, Bekasi, Kamis (8/1/2026).
Menurut Amran, swasembada jagung tidak sekadar mengejar target produksi, tetapi menjadi instrumen strategis negara dalam menyentuh akar persoalan sosial. Peningkatan produksi pertanian dinilai berdampak langsung pada penurunan kemiskinan dan pengangguran.
“Swasembada jagung jangan dilihat berdiri sendiri. Ini menurunkan kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan, dan menekan pengangguran,” ujar Mentan Amran.
Ia menambahkan, ketika kemiskinan dan pengangguran dapat ditekan sejak awal, potensi kejahatan juga bisa dicegah sebelum terjadi. Pendekatan ini disebut sebagai langkah preventif yang menyasar persoalan dari sumbernya.
“Kita cegah di hulu, bukan di hilir. Bukan setelah kejahatan terjadi. Ini bagian dari strategi mencegah kejahatan dengan mengurangi kemiskinan dan pengangguran,” tegasnya.
Mentan Amran menyampaikan, kebijakan percepatan tanam dan penguatan produksi jagung telah menunjukkan hasil nyata. Dalam satu tahun terakhir, produksi jagung nasional mencatat pertumbuhan signifikan.
“Produksi meningkat sekitar 20 persen pada semester pertama 2025, dengan total produksi Januari–Desember mencapai 16,11 juta ton,” ungkapnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen (JPK-KA14%) sepanjang 2025 mencapai 16,11 juta ton, naik 6,44 persen atau sekitar 974 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini ditopang oleh luas panen nasional yang mencapai 2,72 juta hektare atau tumbuh 6,73 persen secara tahunan.
Dengan produksi yang terus menguat, pemerintah mulai bersiap memasuki pasar ekspor jagung. Mentan Amran menyebut potensi produksi dari sekitar 700 ribu hektare lahan dapat menghasilkan hingga 3,5 juta ton jagung.
“Kita harus siap ekspor. Bulog juga harus siap dari sekarang untuk menyerap hasil panen petani,” katanya.
BPS memperkirakan potensi produksi jagung pada Januari–Februari 2026 mencapai 3,14 juta ton JPK-KA14% dengan luas panen sekitar 0,53 juta hektare. Tren ini menandakan produksi jagung nasional masih akan terus meningkat di awal 2026.
Mentan Amran menegaskan bahwa kebijakan pertanian, khususnya swasembada jagung, bukan hanya soal ketahanan pangan, tetapi bagian dari strategi besar negara dalam membangun kesejahteraan dan ketertiban sosial.
“Menanam jagung bukan hanya menanam komoditas, tapi menanam solusi. Dari hulu kita buka lapangan kerja, kurangi kemiskinan, dan cegah kejahatan sebelum tumbuh,” pungkasnya.












