Logo HPN 2026

Hari Pers Nasional

Akan diselenggarakan di
PROVINSI BANTEN
9 Februari 2026

Badan Geologi Waspadai Longsor Susulan di Bandung Barat

24.4K pembaca

Bencana gerakan tanah berupa longsor terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Jumat (24/1/2026). Badan Geologi Kementerian ESDM mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi longsor susulan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, longsor dipicu oleh curah hujan tinggi yang terjadi sebelum dan saat kejadian. Kondisi tersebut menyebabkan peningkatan tekanan air pori, penurunan kuat geser tanah, hingga berujung pada kegagalan lereng.

“Faktor pemicu utama adalah curah hujan tinggi yang terjadi sebelum dan saat kejadian, yang meningkatkan tekanan air pori dan menurunkan kestabilan lereng,” ujar Lana di Bandung, Minggu (25/1).

Gambar

Selain hujan, longsor dipengaruhi kondisi geologi setempat yang didominasi batuan gunungapi tua yang telah lapuk, kemiringan lereng curam, serta keberadaan rekahan dan sesar geologi.

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), wilayah terdampak masuk Zona Kerentanan Menengah. Pada zona ini, gerakan tanah berpotensi terjadi pada lereng yang telah mengalami gangguan, baik alami maupun akibat aktivitas manusia, khususnya saat hujan deras berlangsung lama.

Aktivitas pemotongan lereng untuk permukiman dan akses jalan, serta drainase permukaan yang belum optimal, turut memperbesar risiko longsor dan menurunkan kestabilan lereng di kawasan perbukitan tersebut.

“Peristiwa ini menunjukkan keterkaitan kuat antara morfologi curam, batuan vulkanik lapuk, struktur geologi, dan pengaruh curah hujan tinggi terhadap terjadinya longsor berskala luas,” jelas Lana.

Respons Tanggap Darurat

Pasca kejadian, Badan Geologi memberangkatkan Tim Tanggap Darurat (TTD) ke lokasi bencana. Tim melakukan pemeriksaan lapangan untuk mengidentifikasi penyebab longsor serta menyiapkan rekomendasi teknis penanganan di area terdampak seluas sekitar 30 hektar.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hadi Wijaya menyatakan, tim telah berada di lokasi untuk melakukan pemeriksaan dan kajian teknis.

“Tim Tanggap Darurat Badan Geologi sudah berada di lokasi untuk mengetahui penyebab terjadinya bencana gerakan tanah,” ujarnya.

Tim beranggotakan 10 orang (5 teknis dan 5 nonteknis) tersebut juga melakukan sosialisasi mitigasi kepada warga guna mengurangi risiko bencana berulang.

Imbauan bagi Warga

Badan Geologi meminta warga yang tinggal di sekitar lereng curam dan area terdampak untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan saat dan setelah hujan deras karena potensi longsor susulan masih tinggi.

Selain itu, keselamatan petugas di lapangan menjadi perhatian utama dalam proses penanganan.

“Penanganan longsoran dan pencarian korban agar memperhatikan cuaca dan tidak dilakukan saat atau setelah hujan deras karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan,” tegas Lana.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap