1447 H
رمضان كريم
Marhaban Ya Ramadan
Semoga bulan suci ini membawa keberkahan, kedamaian, dan ampunan bagi kita semua.
✦ Mari sucikan hati, perbanyak ibadah, dan pererat silaturahmi ✦
Hengki Lumban Toruan
HENGKI LUMBAN TORUAN CEO & Founder Sketsa Indonesia

Renungan Minggu Prapaskah: Belajar dari Keteguhan Yesus di Padang Gurun

Ilustrasi Yesus berdoa di padang gurun saat menjalani puasa 40 hari sebelum memulai karya pewartaan-Nya.(Sumber: kemenag.go.id)
17.6K pembaca

Umat Katolik memasuki Minggu I Prapaskah dengan permenungan tentang kisah pencobaan Yesus di padang gurun. Dalam bacaan Injil, diceritakan bagaimana Yesus berpuasa selama 40 hari 40 malam sebelum dicobai oleh iblis.

Kisah tersebut menggambarkan situasi padang gurun yang sunyi dan keras, simbol keterbatasan manusia pada titik terendah kehidupannya. Dalam keadaan lapar dan lemah, Yesus ditawari tiga hal mendasar: pemenuhan kebutuhan fisik, popularitas, dan kekuasaan. Syaratnya, meninggalkan Allah dan menyembah iblis. Namun Yesus dengan tegas menolak, “Enyahlah Iblis! Sebab hanya Tuhan sajalah yang harus disembah.”

Makna Prapaskah bagi Umat

Gambar

Momentum Prapaskah menjadi ajakan reflektif bagi umat beriman untuk menyadari bahwa hidup manusia kerap berada dalam “padang gurun” keterbatasan. Dalam kondisi itu, manusia tidak dapat hanya mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan membutuhkan penyelenggaraan Allah.

Kisah ini juga menegaskan pentingnya pemurnian motivasi. Tawaran-tawaran instan, termasuk keuntungan yang melanggar nilai moral seperti suap dan gratifikasi, menjadi godaan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Umat diajak meneladani keteguhan Kristus dengan menyingkirkan segala hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Puasa dan Pertobatan

Dalam tradisi Gereja Katolik, masa Prapaskah menjadi waktu untuk berpuasa, berpantang, dan memperdalam relasi dengan Allah. Seperti Yesus yang memulai karya-Nya setelah berdoa dan berpuasa di padang gurun, umat diajak menata kembali hidup rohani sebelum melangkah lebih jauh dalam karya dan pelayanan.

Rasul Paulus dari Tarsus pernah menegaskan, “Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Spiritualitas ini menjadi dasar bahwa seluruh kehidupan orang beriman berpangkal dan bermuara pada Allah.

Masa Prapaskah pun dimaknai sebagai kesempatan untuk pertobatan, pembaruan diri, dan komitmen hidup sesuai ajaran Kristus.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap