1447 H
رمضان كريم
Marhaban Ya Ramadan
Semoga bulan suci ini membawa keberkahan, kedamaian, dan ampunan bagi kita semua.
✦ Mari sucikan hati, perbanyak ibadah, dan pererat silaturahmi ✦
Hengki Lumban Toruan
HENGKI LUMBAN TORUAN CEO & Founder Sketsa Indonesia

Ekoteologi Jadi Pesan Menag dalam Halalbihalal BRIN

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan tausyiah dalam acara halalbihalal bersama jajaran Badan Riset dan Inovasi Nasional. (Sumber: kemenag.go.id)
8.7K pembaca

Menteri Agama, Nasaruddin Umar, mengajak masyarakat memperluas makna silaturahmi tidak hanya antar manusia, tetapi juga dengan alam, makhluk hidup lain, dan dimensi spiritual.

Hal tersebut disampaikan dalam tausyiah pada acara halalbihalal Keluarga Besar Badan Riset dan Inovasi Nasional, Senin (30/3/2026).

Menurut Menag, tradisi halalbihalal yang berkembang di Indonesia merupakan bentuk silaturahmi yang melengkapi ibadah Ramadan dan Idulfitri. Ia menekankan bahwa konsep silaturahmi dalam Islam memiliki dimensi ekoteologis, yaitu keterhubungan antara manusia, Tuhan, dan seluruh ciptaan.

Gambar

Ia menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an tidak ada istilah benda mati, karena seluruh unsur alam diyakini memiliki dimensi kehidupan dan senantiasa bertasbih kepada Tuhan.

“Jika manusia memperlakukan alam dengan cinta, maka alam akan merespons dengan kebaikan,” ujarnya.

Menag juga menekankan pentingnya empati terhadap makhluk hidup lain, termasuk hewan. Ia mencontohkan kisah Nabi Muhammad yang menunjukkan kasih sayang kepada hewan sebagai bukti bahwa makhluk hidup memiliki perasaan dan dapat merespons manusia.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa silaturahmi melampaui batas agama, suku, dan bangsa. Nilai persaudaraan harus dimaknai secara universal sebagai bentuk penghormatan terhadap kemanusiaan.

Dalam dimensi spiritual, hubungan silaturahmi bahkan tidak terputus oleh kematian. Menurutnya, doa menjadi sarana untuk tetap terhubung dengan orang yang telah wafat.

Menag juga menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan Tuhan serta membangun dialog spiritual sebagai bagian dari kehidupan.

Dalam perspektif ekoteologi, manusia diposisikan sebagai bagian dari ekosistem yang saling terhubung. Oleh karena itu, menjaga lingkungan menjadi kebutuhan utama, bukan sekadar pilihan.

Ia berharap tradisi keagamaan seperti halalbihalal tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan dengan sesama, alam, dan Tuhan.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap