Tangis Umat Pecah, Dana Rp21 Miliar Masih Tanpa Jejak

Umat Paroki Santo Fransiskus Asisi Aek Nabara menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Bank Negara Indonesia Cabang Rantau Prapat, Rabu (15/4/2026). Menuntut kejelasan dan pengembalian dana yang diduga digelapkan.
16.1K pembaca

Tangis dan kekecewaan tak lagi bisa dibendung. Ratusan umat Paroki Santo Fransiskus Asisi Aek Nabara kembali turun ke jalan, mendatangi kantor Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Rantau Prapat, Rabu (15/4/2026), menuntut kejelasan atas nasib uang mereka yang hingga kini seolah hilang tanpa jejak.

Di bawah terik matahari, wajah-wajah lelah terlihat jelas. Mereka adalah petani, peladang, pedagang kecil, hingga buruh, orang-orang sederhana yang selama ini menggantungkan harapan hidup pada dana yang disimpan melalui Credit Union (CU) paroki.

Dari total sekitar Rp28 miliar yang diduga digelapkan, sekitar Rp21 miliar hingga hari ini belum diketahui ke mana perginya. Tidak ada penjelasan rinci, tidak ada kepastian. Yang tersisa hanya diam, dan itu menyakitkan.

Gambar

Bagi mereka, ini bukan sekadar angka.

Ini adalah hasil keringat bertahun-tahun di ladang. Hasil panen kecil yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Harapan untuk pendidikan anak, untuk masa depan keluarga, untuk hidup yang lebih layak.

Namun kini, semua itu berubah menjadi kecemasan yang tak berujung.

“Kami sudah bersurat, kami menunggu, tapi tidak ada jawaban. Ini sangat miris,” ujar kuasa hukum dari Kantor Advokat Gani Djemat & Partners, Bryan Roberto Mahulae, S.H., M.H., di tengah massa aksi.

Ia menegaskan bahwa aksi yang dilakukan umat adalah bentuk kekecewaan mendalam terhadap sikap BNI yang dinilai tidak menunjukkan itikad baik.

“Bapak ibu datang dengan damai, tanpa provokasi. Tapi kekecewaan ini nyata. Dana itu bukan sekadar uang, tapi masa depan,” katanya.

Lebih menyakitkan lagi, hingga kini belum ada kejelasan resmi terkait aliran dana yang hilang, khususnya sisa Rp21 miliar yang diduga berada dalam kendali oknum pemegang kas.

Ketiadaan informasi ini dinilai sebagai bentuk pengabaian terhadap hak nasabah.

“Ini bukan hanya soal kerugian, tapi soal keadilan. Nasabah berhak tahu ke mana uang mereka,” tegasnya.

Di tengah kebuntuan, muncul informasi bahwa pimpinan BNI Cabang Rantau Prapat tengah diperiksa di Polda Sumatera Utara. Namun bagi umat, proses itu belum menjawab pertanyaan paling mendasar: ke mana uang mereka?

Frater paroki, Fritz Prasetyo, menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa disederhanakan sebagai kesalahan individu semata.

“Ini bukan sekadar ulah oknum. Ada persoalan sistemik yang membuat praktik ini bisa berjalan bertahun-tahun tanpa terdeteksi,” ujarnya.

Ia menambahkan, lemahnya pengawasan internal telah berdampak besar pada umat yang mayoritas berasal dari kalangan kecil.

“Kami hanya menuntut hak kami. Dana itu bukan sekadar angka, tapi menyangkut kehidupan, pendidikan anak-anak, dan masa depan umat,” tambahnya.

Kuasa hukum memastikan perjuangan tidak akan berhenti. Selain menempuh jalur hukum, mereka juga akan melakukan berbagai upaya untuk menekan pihak BNI agar bertanggung jawab.

Namun bagi umat, waktu tidak bisa menunggu. Kebutuhan hidup terus berjalan, sementara harapan mereka masih tergantung pada jawaban yang tak kunjung datang.

Di tengah sunyi yang panjang itu, satu pertanyaan terus menggema, ke mana Rp21 miliar uang umat itu pergi?

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap