Di negeri yang katanya kaya,
guru masih menghitung hari dengan cemas.
Bukan menghitung prestasi muridnya,
tetapi menghitung apakah gaji bulan ini
cukup membeli beras, membayar listrik,
dan menyekolahkan anaknya sendiri.
Ironi itu begitu sunyi.
Di ruang kelas yang mulai lapuk,
ia mengajarkan kejujuran,
sementara di layar berita
ia menyaksikan korupsi bernilai triliunan.
Ia mengajarkan integritas,
namun sering merasa
integritas tak pernah mendapat tempat
di meja-meja kekuasaan.
Lalu muncul pertanyaan
yang berputar di kepala banyak orang:
“Mengapa guru belum benar-benar dimuliakan?”
Sebagian menjawab,
karena anggaran terbatas.
Sebagian lagi berkata,
karena birokrasi terlalu rumit.
Dan ada pula yang berprasangka,
bahwa ada pihak-pihak yang tidak sungguh-sungguh ingin
rakyat menjadi semakin kritis dan cerdas.
Prasangka itu lahir
dari luka panjang masyarakat,
bukan dari kepastian yang telah terbukti.
Sebab sejarah mengajarkan,
bangsa yang kuat
tidak dibangun dengan rakyat yang bodoh,
melainkan dengan rakyat yang berilmu.
Guru bukan sekadar profesi.
Ia adalah penjaga peradaban.
Di tangannya,
anak seorang buruh dapat menjadi ilmuwan.
Di tangannya,
anak petani dapat menjadi pemimpin.
Di tangannya,
masa depan republik sedang ditulis
setiap hari.
Karena itu,
ketika guru hidup dalam kekurangan,
sesungguhnya yang sedang dikurangi
bukan hanya kesejahteraannya.
Yang sedang dipertaruhkan
adalah kualitas masa depan Indonesia.
Bangsa ini tidak memerlukan
penguasa yang takut kepada rakyat yang cerdas.
Bangsa ini memerlukan
pemimpin yang justru bangga
melihat rakyatnya semakin kritis,
semakin berani menyampaikan pendapat,
dan semakin mampu mengawasi jalannya negara.
Sebab demokrasi bukan musuh kekuasaan.
Demokrasi adalah sahabat
bagi kekuasaan yang jujur.
Wahai para pemegang amanah,
Jika benar engkau mencintai Indonesia,
muliakanlah guru.
Jangan hanya dengan pidato,
tetapi dengan kebijakan yang adil,
penghasilan yang layak,
pelatihan yang bermutu,
dan penghormatan yang nyata.
Karena membangun sekolah
lebih mulia daripada membangun citra.
Meninggikan martabat guru
adalah meninggikan martabat bangsa.
Indonesia tidak akan menjadi negara besar
hanya karena kekayaan alamnya.
Indonesia akan menjadi besar
ketika setiap anak memperoleh pendidikan terbaik,
setiap guru hidup bermartabat,
dan setiap pemimpin menyadari
bahwa ilmu pengetahuan
adalah benteng terkuat sebuah peradaban.
Mari kita jaga republik ini.
Dengan akal yang tercerahkan.
Dengan hati yang jujur.
Dengan keberanian untuk memperbaiki,
bukan untuk saling membenci.
Sebab Indonesia yang adil
tidak lahir dari kebencian,
melainkan dari ilmu, kejujuran,
dan keberanian menegakkan kebenaran.
Untuk Indonesia tercinta,
semoga setiap guru dimuliakan,
setiap anak diberi kesempatan belajar,
dan setiap pemimpin selalu ingat:
Bangsa yang menghormati guru,
sedang menyiapkan kejayaan masa depannya.
Hikmat Subiadinata
180726






