Pelajaran Keluarga Maslahah dari Film My Daughter Is a Zombie

oleh
film My Daughter Is a Zombie yang mengangkat kisah seorang ayah yang berusaha melindungi putrinya setelah terinfeksi zombie. (Sumber: kemenag.go.id)
10.8K pembaca

Ada sebuah adegan sederhana dalam film Korea My Daughter Is a Zombie yang menyisakan pertanyaan tentang arti keluarga. Film yang memadukan komedi dan kisah zombie itu tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga membuka ruang untuk melihat kembali bagaimana keluarga menghadapi anggota yang berada dalam kondisi paling rentan.

Cerita berpusat pada Lee Jeong Hwan, seorang ayah sekaligus mantan pelatih hewan buas. Hidupnya berubah ketika putrinya, Lee Su Ah, terinfeksi dan berubah menjadi zombie.

Dalam situasi yang seharusnya membuat seseorang memilih menyelamatkan diri, Jeong Hwan justru mengambil keputusan berbeda. Ia tidak meninggalkan putrinya. Ia mencari cara agar Su Ah tetap dapat dirawat dan hidup bersama keluarganya.

Secara logika, situasi tersebut memang absurd. Bagaimana mungkin seorang ayah merawat anak yang telah menjadi zombie?

Namun, film garapan Pil Gam Sung justru menggunakan absurditas itu sebagai jalan untuk menyampaikan pesan yang lebih manusiawi. Di balik humor dan berbagai adegan konyol, terdapat pertanyaan serius: sejauh mana seseorang akan bertahan untuk melindungi anggota keluarganya yang paling rentan?

Ketika yang Rentan Dianggap Ancaman

Dalam cerita tersebut, wabah zombie telah menyebar luas. Pemerintah dan aparat keamanan memburu orang-orang yang terinfeksi untuk mencegah penyebaran wabah.

Masalahnya, mereka yang terinfeksi tidak lagi dilihat sebagai manusia yang memiliki keluarga, perasaan, dan sejarah kehidupan. Mereka diperlakukan sebagai ancaman yang harus segera disingkirkan.

Jeong Hwan memahami risiko tersebut. Karena itu, ia membawa Su Ah ke rumah neneknya dan berusaha menyembunyikannya dari aparat.

Dengan segala keterbatasan, ia mencoba melatih putrinya agar dapat mengendalikan dirinya. Proses tersebut berlangsung dengan cara yang terkadang lucu, canggung, tetapi pada saat yang sama menyentuh.

Dari sinilah film tersebut menyentuh persoalan yang lebih luas tentang keluarga dan negara.

Dalam kehidupan nyata, keluarga sering dipandang sebagai fondasi masyarakat. Berbagai program penguatan keluarga, termasuk konsep keluarga sakinah dan keluarga maslahah, dibangun dari pemahaman bahwa keluarga memiliki peran penting dalam membentuk manusia dan kehidupan sosial.

Namun, film ini mengajak kita melihat pertanyaan lain: bagaimana jika dalam situasi krisis, orang yang paling rentan justru dipandang sebagai beban?

Keluarga dan Mereka yang Paling Rentan

Su Ah dalam film tersebut tidak menghadapi ancaman dari musuh asing. Ia justru diburu oleh sistem yang menganggap dirinya sebagai ancaman.

Situasi itu memang merupakan bagian dari fiksi. Namun, gagasannya dapat menjadi bahan refleksi dalam kehidupan nyata.

Ketika masyarakat menghadapi bencana, wabah, konflik, tekanan ekonomi, atau keadaan darurat lainnya, kelompok yang paling rentan sering kali menghadapi risiko paling besar.

Mereka dapat berupa anak-anak, perempuan, lansia, penyandang disabilitas, hingga orang-orang yang dianggap tidak produktif secara ekonomi.

Dalam kondisi seperti itu, ukuran keberhasilan sebuah keluarga tidak hanya terlihat dari kemampuan memenuhi kebutuhan material. Keluarga juga diuji dari kesediaannya untuk melindungi anggota yang paling membutuhkan perhatian.

Keluarga maslahah dalam konteks ini bukan sekadar keluarga yang terlihat harmonis dari luar. Lebih dari itu, keluarga maslahah adalah keluarga yang mampu menjaga martabat, keselamatan, dan hak setiap anggotanya.

Menjaga Jiwa dan Keturunan

Nilai tersebut dapat dikaitkan dengan prinsip hifz al-nafs atau menjaga jiwa dan hifz al-nasl atau menjaga keturunan.

Keduanya menjadi semakin penting ketika keluarga menghadapi tekanan besar.

Kasih sayang tidak cukup berhenti pada kata-kata. Ia harus diwujudkan dalam tindakan, termasuk keberanian melindungi anggota keluarga ketika berada dalam keadaan sulit.

Dalam film tersebut, Jeong Hwan mungkin bukan sosok ayah yang sempurna. Ia melakukan banyak kesalahan, kebingungan, dan bahkan menggunakan cara-cara yang tidak biasa.

Namun, satu hal yang konsisten: ia tidak meninggalkan putrinya.

Pesan tersebut menjadi menarik karena film ini tidak menggambarkan keluarga ideal yang selalu rukun dan tanpa persoalan. Sebaliknya, keluarga yang ditampilkan justru penuh kekurangan.

Di situlah letak sisi manusianya.

Keluarga yang maslahah tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk menjalankan fungsi perlindungan. Yang lebih penting adalah kemauan untuk terus memperbaiki diri dan tetap hadir ketika salah satu anggotanya membutuhkan pertolongan.

Hubungan Keluarga dan Negara

Konsep keluarga juga tidak dapat dilepaskan dari peran negara.

Keluarga ikut menopang negara melalui pendidikan, pengasuhan, perawatan, dan pembentukan generasi. Sebaliknya, negara memiliki tanggung jawab untuk menciptakan kebijakan yang mampu memberikan perlindungan dan ruang aman bagi keluarga.

Hubungan tersebut membutuhkan keseimbangan.

Konsep mubadalah atau kesalingan dapat menjadi salah satu cara melihat relasi tersebut. Keluarga tidak hanya memiliki tanggung jawab terhadap negara, tetapi negara juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan keluarga, terutama kelompok rentan di dalamnya, memperoleh perlindungan.

Ketika keseimbangan itu terganggu, keluarga dapat dipaksa menghadapi persoalan besar sendirian.

Dalam kondisi demikian, keluarga membutuhkan lebih dari sekadar imbauan. Mereka membutuhkan kebijakan, layanan publik, perlindungan sosial, serta institusi yang benar-benar hadir ketika keadaan menjadi sulit.

Kasih Sayang sebagai Benteng Terakhir

Pada akhirnya, My Daughter Is a Zombie bukan hanya cerita tentang manusia yang berubah menjadi zombie.

Film tersebut dapat dibaca sebagai gambaran tentang pilihan manusia ketika berhadapan dengan anggota keluarga yang dianggap berbeda, lemah, atau bahkan membahayakan.

Jeong Hwan memilih untuk tetap melihat Su Ah sebagai anaknya.

Pilihan itu sederhana, tetapi memiliki makna besar. Di tengah dunia yang ingin menghilangkan segala sesuatu yang dianggap sebagai ancaman, keluarga justru menjadi ruang pertama untuk mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki martabat.

Keluarga maslahah karena itu tidak cukup dibangun melalui slogan tentang keharmonisan. Ia membutuhkan keberanian untuk menjaga, kesabaran untuk merawat, dan kesediaan untuk tidak meninggalkan anggota keluarga yang sedang berada di titik terlemahnya.

Mungkin itulah pesan paling sederhana yang dapat dipetik dari film komedi zombie tersebut: ketika dunia menilai seseorang hanya berdasarkan kelemahan atau kondisinya, keluarga seharusnya menjadi tempat pertama yang tetap melihatnya sebagai manusia.

Dan ketika keluarga telah berusaha sekuat tenaga, negara pun memiliki tanggung jawab untuk memastikan mereka tidak harus berjuang sendirian.

Catatan: Informasi ini dikutip dari website resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Jumat (21/8/2026).

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap