Kemenag Targetkan 1,78 Juta Peserta Gema Selawat

oleh
Gema Selawat Kebangsaan, Kemenag Ajak Masyarakat Teladani Akhlak Nabi Muhammad saw. (Sumber: kemenag.go.id)
237.2K pembaca

Kementerian Agama (Kemenag) mengajak masyarakat memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. melalui selawat dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Ajakan tersebut diwujudkan melalui Gema Selawat Kebangsaan, sebuah gerakan yang ditargetkan melibatkan 1.781.945 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Muchlis M. Hanafi, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang bersama untuk menghidupkan tradisi selawat sekaligus meneladani akhlak Rasulullah saw. dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Menurut Muchlis, Rabiulawal merupakan momentum untuk memperbanyak selawat sekaligus memperkuat kecintaan kepada Rasulullah. Namun, kecintaan tersebut diharapkan tidak berhenti pada lantunan selawat.

“Cinta harus berlanjut menjadi keteladanan dengan menghadirkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan: kasih sayang, persaudaraan, kepedulian, dan kecintaan kepada tanah air,” ujar Muchlis di Jakarta, Minggu (23/8/2026).

Target 1,78 Juta Peserta Punya Makna Kebangsaan

Kemenag menetapkan target 1.781.945 peserta sebagai simbol yang merujuk pada momentum kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.

Angka tersebut diharapkan menjadi pesan bahwa kecintaan kepada Rasulullah saw. dapat menjadi kekuatan spiritual untuk menjaga persatuan dan memperkuat kecintaan terhadap Indonesia.

“Selawat untuk negeri berarti menghadirkan nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah saw. dalam merawat Indonesia,” kata Muchlis.

Ia berharap gerakan selawat tersebut dapat mendorong masyarakat membangun kehidupan yang damai, adil, saling menghormati, dan peduli terhadap sesama.

Selawat untuk Masyarakat Terdampak Bencana

Gema Selawat Kebangsaan juga diarahkan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi bencana.

Di tengah gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, masyarakat diajak menjadikan momentum selawat sebagai sarana mendoakan sekaligus memperkuat solidaritas bagi warga terdampak.

Salah satu rangkaian utama kegiatan tersebut adalah pembacaan dan khataman Dalā’il al-Khayrāt, karya Imam Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli, ulama asal Maroko yang hidup pada abad ke-9 Hijriah.

Kitab tersebut berisi kumpulan selawat kepada Nabi Muhammad saw. dan telah dibaca lintas generasi di berbagai wilayah dunia Islam. Di Indonesia, Dalā’il al-Khayrāt juga menjadi bagian dari khazanah dan tradisi keagamaan umat Islam.

Pembacaan akan dilakukan secara bertahap selama satu pekan dengan mengikuti pembagian hizib dalam kitab tersebut.

Masyarakat dapat mengikuti kegiatan secara berjemaah melalui masjid, majelis taklim, pesantren, lembaga pendidikan, komunitas keagamaan, maupun secara mandiri.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi aktivitas ritual, tetapi juga mendorong umat untuk semakin mengenal, mencintai, dan meneladani Rasulullah saw.

Diluncurkan 26 Agustus 2026

Gema Selawat Kebangsaan akan diluncurkan pada 26 Agustus 2026. Peluncuran ini menjadi penanda dimulainya gerakan nasional yang melibatkan berbagai unsur masyarakat untuk menyemarakkan Rabiulawal.

Selain memperbanyak selawat, gerakan tersebut membawa pesan tentang pentingnya kecintaan kepada Rasulullah saw. dan penerapan keteladanan beliau dalam kehidupan bermasyarakat.

Muchlis mengatakan kegiatan tersebut sejalan dengan perhatian Menteri Agama Nasaruddin Umar terhadap penguatan kehidupan keagamaan yang membawa kedamaian, persaudaraan, dan kemaslahatan.

Menurutnya, peringatan Maulid Nabi tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial. Nilai-nilai akhlak Rasulullah perlu diterapkan dalam hubungan antarsesama dan kehidupan berbangsa.

“Dengan semangat ‘Selawat untuk Negeri, Teladan Nabi untuk Indonesia’, kami mengajak masyarakat menjadikan Rabiulawal bukan sekadar momentum memperingati kelahiran Rasulullah saw., tetapi juga momentum menghidupkan teladan beliau,” ujar Muchlis.

Ia berharap gema selawat yang berkumandang dari berbagai daerah dapat menjadi simbol kecintaan kepada Rasulullah, sesama manusia, dan Tanah Air.

Catatan: Informasi ini dikutip dari situs resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Minggu (23/8/2026).

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap