Nasaruddin Umar Cerita Perjumpaan dengan Tiga Paus

oleh
Menteri Agama Nasaruddin Umar saat perjumpaannya dengan tiga Paus dalam pertemuan bersama tokoh lintas agama di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. (Sumber: kemenag.go.id)
16.1K pembaca

Menteri Agama Nasaruddin Umar membagikan kisah perjumpaannya dengan tiga Paus dalam perjalanan panjangnya membangun dialog lintas agama.

Kisah tersebut disampaikan Nasaruddin di hadapan para tokoh agama di halaman Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Kamis (3/9/2026).

Pertemuan itu turut dihadiri Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus, para pastor, suster, serta tokoh agama lainnya.

Nasaruddin mengawali ceritanya dengan pengalaman di Vatikan pada 2005. Saat itu, ia berada di sana untuk menghadiri pemakaman Paus Yohanes Paulus II.

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin bertemu dengan Paus Benediktus. Namun, salah satu pengalaman yang paling membekas justru terjadi ketika ia sedang menunggu rombongan di bawah sebuah pohon.

Ia kemudian berbincang dengan seorang suster yang bertugas di sebuah gereja Katolik di Afrika. Keduanya berbicara cukup lama menggunakan bahasa Inggris.

Setelah sekitar satu jam berbincang, datang rombongan suster lain yang menyapa suster tersebut menggunakan bahasa Indonesia. Nasaruddin pun baru mengetahui bahwa suster yang diajak berbincang ternyata berasal dari Indonesia.

“Cukup lama saya berbincang, hampir satu jam dengan bahasa Inggris suster tersebut yang terbata-bata. Tidak lama, ada rombongan suster yang mendatangi kami dan menyapa suster tersebut dengan bahasa Indonesia. Saya baru sadar kalau beliau orang Indonesia.”

Nasaruddin mengaku semakin terkesan setelah mengetahui para suster tersebut berasal dari Nusa Tenggara Timur. Ia mendapat informasi bahwa sekitar 300 suster Indonesia menjalankan pelayanan hingga ke Afrika.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa perbedaan agama maupun latar belakang tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun hubungan antarmanusia.

Bertemu Paus Fransiskus

Perjalanan dialog lintas agama Nasaruddin kemudian berlanjut melalui perjumpaannya dengan Paus Fransiskus.

Salah satu momentum yang ia kenang adalah kunjungan Paus Fransiskus ke Masjid Istiqlal, Jakarta. Menurut Nasaruddin, pertemuan tersebut tidak sekadar menjadi acara seremonial, tetapi menghasilkan komitmen untuk memperkuat persaudaraan kemanusiaan dan kepedulian terhadap lingkungan.

Nasaruddin menilai agama memiliki peran penting dalam membangun kesadaran manusia untuk menjaga alam.

“Tidak banyak artinya kita menyelamatkan alam semesta hanya dengan menggunakan bahasa undang-undang, bahasa pemerintah, atau birokrasi.”

Menurut dia, kepedulian terhadap lingkungan perlu dibangun melalui kesadaran keagamaan. Keyakinan, kata Nasaruddin, dapat menjadi kontrol dari dalam diri seseorang ketika tidak ada pengawasan dari aparat atau pemerintah.

Ia mencontohkan pentingnya menjaga kehidupan yang ada di alam.

“Tumbuhan ini punya nyawa. Kalau membakar hutan, berarti membakar nyawa-nyawa yang lain. Jadi kita menghidupkan, jangan mematikan.”

Gagasan tersebut kemudian dikembangkan melalui program Ekoteologi di Kementerian Agama.

Perjumpaan dengan Paus Leo XIV

Nasaruddin juga menceritakan perjumpaannya dengan Paus Leo XIV di Vatikan. Dalam pertemuan tersebut, keduanya membahas semangat persaudaraan serta tindak lanjut Deklarasi Istiqlal.

Bagi Nasaruddin, rangkaian perjumpaan dengan tiga Paus menunjukkan bahwa dialog antaragama dapat dibangun melalui hal-hal sederhana, seperti pertemuan dan percakapan.

Ia mengajak masyarakat tidak menjadikan perbedaan sebagai titik utama dalam membangun hubungan antarumat beragama.

“Jangan menekankan perbedaan antara satu agama dengan agama yang lain. Lebih gampang kita mencari titik temu dan persamaan.”

Nasaruddin menegaskan bahwa toleransi bukan berarti menghapus perbedaan. Sebaliknya, perbedaan perlu dihormati tanpa mengganggu hubungan antarmanusia.

“Toleransi ialah membiarkan yang berbeda itu berbeda dan membiarkan yang sama itu sama, tanpa harus mempersoalkan.”

Di hadapan para tokoh agama di Manggarai Barat, Nasaruddin menekankan pentingnya memperbanyak perjumpaan sebagai cara membangun jembatan di tengah keberagaman.

Semakin banyak ruang pertemuan dan dialog dibuka, semakin besar pula peluang untuk menemukan persamaan serta memperkuat kerukunan antarumat beragama.

Catatan: Informasi ini dikutip dari situs resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Jumat (4/9/2026).

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap