Nakes Tembus Medan Sulit Layani Korban Gempa Ende

oleh
Tenaga kesehatan Kemenkes memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di wilayah terdampak gempa Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. (Sumber: kemkes.go.id)
14.7K pembaca

Medan berat tidak menghentikan tenaga kesehatan (nakes) menjangkau warga terdampak gempa di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Jalan pegunungan yang rusak, tebing, jurang, hingga perjalanan laut harus dilalui untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan layanan kesehatan.

Kondisi tersebut dijalani dr. Halik Malik bersama tiga relawan kesehatan yang terdiri atas dua bidan dan satu apoteker. Mereka merupakan bagian dari Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI batch pertama yang ditugaskan di Puskesmas Ndona, Kabupaten Ende.

Wilayah kerja Puskesmas Ndona mencakup delapan desa yang sebagian besar memiliki akses sulit. Tim harus menggunakan kendaraan dengan pengemudi berpengalaman atau berjalan kaki untuk menjangkau sejumlah wilayah.

“Sebagian besar wilayah kerja puskesmas tempat kami bertugas termasuk daerah sulit akses. Umumnya hanya dapat ditempuh dengan kendaraan yang pengemudinya berpengalaman menghadapi medan ekstrem atau dengan berjalan kaki,” ujar dr. Halik.

Tempuh 5,5 Jam ke Desa Nila

Salah satu perjalanan paling berat dilakukan saat tim memberikan pelayanan kesehatan bergerak atau mobile clinic ke Desa Nila.

Tim membutuhkan sekitar tiga jam perjalanan menggunakan mobil atau sepeda motor. Setelah itu, mereka harus berjalan kaki selama sekitar 2,5 jam melalui medan menanjak untuk mencapai lokasi.

Perjalanan kembali juga menjadi tantangan. Untuk menghemat waktu, tim menggunakan jalur laut dari dermaga darurat. Mereka turun dari kawasan tebing dan jurang, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan kapal motor selama sekitar dua jam menyusuri pesisir selatan Pulau Ende.

“Ekstremnya lagi, untuk memangkas waktu pulang dari Desa Nila, tim relawan harus menempuh jalur laut dari dermaga darurat. Dari tebing jurang langsung naik ke kapal,” tuturnya.

Perjalanan tersebut dilakukan karena sejumlah fasilitas kesehatan belum dapat berfungsi secara optimal setelah gempa. Di sisi lain, kebutuhan layanan kesehatan masyarakat terus berlangsung.

Sebagian warga masih bertahan di rumah dengan tenda pengungsian mandiri. Warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat mendapatkan bantuan tenda dan logistik sambil menunggu proses pemulihan dan penyediaan hunian sementara.

Keluhan Kesehatan Meningkat

Kondisi pascabencana mulai memunculkan berbagai keluhan kesehatan. Tim menemukan kasus infeksi saluran pernapasan, gangguan lambung, hipertensi, nyeri persendian, hingga gangguan tidur.

Pasien dengan penyakit kronis juga menghadapi risiko kondisi yang lebih berat akibat terganggunya akses menuju fasilitas kesehatan.

Dampak gempa tidak hanya dirasakan secara fisik. Sejumlah warga mengalami trauma, kecemasan, dan gangguan tidur karena masih menghadapi gempa susulan.

“Tidak jarang ditemukan warga yang mengalami trauma dan gangguan tidur karena serangan panik atau kecemasan,” kata dr. Halik.

Tim juga menangani sejumlah kondisi yang membutuhkan pertolongan segera, termasuk persalinan darurat dan gagal napas akibat infeksi saluran pernapasan pada anak balita. Penanganan dilakukan bersama petugas puskesmas dan pasien dirujuk apabila membutuhkan layanan lebih lanjut.

12 Puskesmas Dapat Dukungan TCK

Menurut dr. Halik, layanan kesehatan dengan mendatangi langsung masyarakat menjadi salah satu cara untuk menjangkau warga selama fasilitas kesehatan masih dalam proses pemulihan.

“Tim relawan menyisir wilayah kerja di masing-masing puskesmas untuk memastikan siapa saja yang sakit di pelosok desa sekalipun mendapatkan tindakan medis segera yang seharusnya mereka dapatkan,” ujarnya.

Kedatangan tim medis mendapat sambutan dari masyarakat. Keterbatasan layanan membuat sebagian warga harus menempuh jarak jauh untuk memperoleh pengobatan, sementara sejumlah puskesmas pembantu (pustu) di wilayah terdampak belum berfungsi optimal.

Di Kabupaten Ende, sedikitnya 12 dari 28 puskesmas mendapatkan dukungan relawan kesehatan TCK Kemenkes RI. Dukungan tersebut mencakup penguatan tenda pelayanan dan pelayanan kesehatan bergerak dari desa ke desa.

Sejumlah puskesmas yang sebelumnya memberikan layanan selama 24 jam juga harus beralih ke posko tenda karena bangunan mengalami kerusakan. Sebagian petugas kesehatan turut terdampak bencana.

Akses dan Longsor Jadi Tantangan

Kondisi geografis menjadi tantangan besar dalam pemulihan layanan kesehatan di Ende. Jalur pegunungan dengan tebing dan jurang curam diperparah kerusakan jalan serta longsor di sejumlah titik.

Gempa susulan juga membuat masyarakat dan tenaga kesehatan harus tetap berhati-hati saat menjalankan pelayanan.

“Tantangan terbesar adalah kapasitas layanan kesehatan dasar yang belum memadai, bahkan sebelum bencana terjadi. Situasi ini diperberat dengan wilayah terdampak yang sulit diakses dan bertambah sulit pascabencana karena jalan putus atau longsor di sejumlah titik,” ujar dr. Halik.

Kemenkes terus memperkuat respons kesehatan bersama pemerintah daerah melalui dukungan tenaga kesehatan, pelayanan kesehatan bergerak, tenda pelayanan, dan logistik medis.

Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan layanan kesehatan tetap tersedia bagi masyarakat selama fasilitas kesehatan yang terdampak gempa masih dalam proses pemulihan.

Catatan: Informasi ini dikutip dari situs resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Sabtu (5/9/2026).

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap