Ivon Rahmani, Doktor Kristen yang Lulus dari UIN Jakarta

oleh
Dr. Ivon Rahmani, S.Th., M.Th., lulusan Program Doktor Pengkajian Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengikuti prosesi Wisuda ke-141 UIN Jakarta. (Sumber: kemenag.go.id)
11K pembaca

Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali meluluskan doktor dari latar belakang agama yang beragam. Salah satunya Dr. Ivon Rahmani, S.Th., M.Th., lulusan Program Doktor Pengkajian Islam yang beragama Kristen.

Ivon menjadi salah satu lulusan pada Wisuda ke-141 UIN Jakarta. Ia memilih UIN Jakarta karena menilai kampus tersebut memiliki ruang yang terbuka untuk dialog dan kajian lintas agama.

“Saya tertarik untuk masuk ke UIN Jakarta mengambil program doktoral karena melihat UIN Jakarta sebagai institusi yang sangat terbuka terhadap dialog keberagaman agama dari berbagai macam denominasi agama yang ada,” ujar Ivon saat ditemui di sela prosesi wisuda, Sabtu (5/9/2026).

Menurut Ivon, keputusan menempuh pendidikan doktoral di perguruan tinggi keagamaan Islam sempat menimbulkan kekhawatiran. Ia mempertanyakan apakah latar belakang agamanya akan diterima di lingkungan akademik UIN Jakarta.

Namun, kekhawatiran tersebut berangsur hilang setelah ia merasakan penerimaan dan dukungan selama menjalani pendidikan.

“Awalnya mengalami tantangan dan ada sedikit kecemasan apakah saya diterima atau tidak. Tetapi seiring berjalannya waktu, ternyata kampus UIN Jakarta menerima saya dengan sangat terbuka dan sangat baik,” tuturnya.

Pengalaman tersebut membuat Ivon melihat pendidikan lintas agama sebagai kesempatan untuk memperluas wawasan. Menurutnya, proses belajar tidak harus selalu berlangsung dalam lingkungan yang memiliki latar belakang yang sama.

“Kita tidak perlu hanya belajar di ruang yang sama, yang familier, atau dengan latar belakang yang sama. Kita bisa belajar di mana pun, termasuk di lingkungan yang memiliki latar belakang yang berbeda dengan kita,” katanya.

Setelah meraih gelar doktor, Ivon berharap UIN Jakarta terus memberikan kesempatan bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang agama. Ia juga mendorong lebih banyak kerja sama antara UIN Jakarta dan perguruan tinggi berbasis agama lainnya.

“Pastinya saya mengharapkan UIN Jakarta terus membuka kesempatan yang selebar-lebarnya dan seluas-luasnya bagi mahasiswa non-Muslim,” ujarnya.

Bukan Pengalaman Pertama

Ivon bukan satu-satunya mahasiswa Kristen yang menyelesaikan pendidikan doktoral di SPs UIN Jakarta. Sebelumnya, Dr. Bara Izzat Wiwah Handaru, S.Th., M.Th., juga meraih gelar doktor dari kampus tersebut.

Dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) Baptis Kalvari Jakarta itu menyelesaikan studi pada Konsentrasi Dakwah dan Komunikasi dengan predikat sangat memuaskan dan IPK 3,65.

Bara mengaku mendapatkan pengalaman dalam menjalani studi lintas budaya dan agama selama berada di UIN Jakarta.

“Saya belajar ilmu yang berbeda—lintas agama, dan terlibat dengan lingkungan sosial agama yang berbeda pula,” katanya.

Pengalaman serupa juga pernah dijalani Dr. Gregorius Soetomo, SJ, seorang pastor Katolik yang menyelesaikan pendidikan doktoral di SPs UIN Jakarta pada 2017.

Gregorius mengatakan, pengalaman selama menempuh pendidikan tidak hanya memperkaya pengetahuan akademiknya, tetapi juga memperluas relasi dan memberikan pelajaran kehidupan.

“Tentunya saya banyak belajar di sini, tidak hanya tentang akademik. Saya bertemu dengan teman-teman baru, guru-guru yang hebat dan pelajaran hidup,” ungkapnya.

Ia berharap pengalaman tersebut dapat dibawa ke lingkungan jemaat untuk turut memperkuat hubungan Islam-Kristen.

Keberadaan lulusan dari latar belakang agama berbeda menunjukkan ruang akademik UIN Jakarta dapat menjadi tempat bertemunya berbagai perspektif keagamaan. Pendidikan lintas agama juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk membangun pemahaman dan relasi yang lebih luas di tengah keberagaman masyarakat.

Catatan: Informasi ini dikutip dari situs resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Senin (7/9/2026).

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap