UNAS Gelar ICGI 2026, Bahas Ketahanan Global di Tengah Krisis Berlapis

oleh
Universitas Nasional menggelar The 3rd International Conference on Global Issues (ICGI) 2026 di Auditorium Cyber UNAS, Jakarta, dengan menghadirkan akademisi dan tokoh dari tujuh negara untuk membahas ketahanan global di tengah krisis berlapis. (Foto: Dokumentasi UNAS)
567 pembaca

Universitas Nasional (UNAS) menggelar The 3rd International Conference on Global Issues (ICGI) 2026 di Auditorium Cyber UNAS, Jakarta, Selasa (14/10/2026). Konferensi internasional ini membahas strategi memperkuat ketahanan global di tengah berbagai krisis yang saling berkaitan.

Mengusung tema “Beyond 2030: Redefining Global Resilience in the Age of Polycrisis”, kegiatan tersebut diikuti lebih dari 300 peserta secara luring dan daring dari tujuh negara.

ICGI 2026 menghadirkan Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, serta Staf Ahli Menteri Keuangan RI Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal, Arief Wibisono, sebagai tamu kehormatan. Konferensi dipimpin oleh Dr. Robi Nurhadi selaku ketua pelaksana.

UNAS Soroti Dampak Krisis yang Saling Berkaitan

Wakil Rektor UNAS, Prof. Ernawati Sinaga, mengatakan dunia saat ini menghadapi berbagai krisis secara bersamaan. Kondisi yang dikenal sebagai polycrisis tersebut menunjukkan bahwa satu persoalan dapat memicu atau memperburuk masalah lain.

“Ketahanan tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan untuk pulih setelah krisis. Lebih dari itu, ketahanan harus mencakup kemampuan untuk mengantisipasi, beradaptasi, bertransformasi, dan menjadi lebih kuat dalam menghadapi perubahan,” ujar Ernawati.

Ia menjelaskan, perubahan iklim dapat mengganggu ketahanan pangan, sedangkan kerawanan pangan berpotensi berdampak pada kesehatan dan stabilitas sosial. Kerusakan lingkungan juga mengancam keanekaragaman hayati, kesejahteraan masyarakat, dan pembangunan ekonomi.

Tantangan lainnya datang dari perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta teknologi baru. Kemajuan tersebut membuka peluang, tetapi sekaligus memunculkan persoalan terkait lapangan kerja, pendidikan, etika, privasi, dan kesenjangan sosial.

Karena itu, pendekatan terhadap ketahanan global perlu mempertimbangkan keterkaitan berbagai persoalan, bukan hanya menyelesaikan krisis secara terpisah.

Target SDGs 2030 Menjadi Perhatian

Ketua Pelaksana ICGI 2026, Dr. Robi Nurhadi, menilai dunia menghadapi tantangan yang semakin kompleks, terutama dalam bidang politik, ekonomi, energi, dan pangan.

Menurut Robi, waktu menuju tenggat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 semakin terbatas. Sementara itu, fragmentasi global dan berbagai persoalan lintas negara membutuhkan respons bersama.

“Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 tinggal empat tahun lagi, tetapi dunia justru semakin terfragmentasi. Tiga subtema ICGI hari ini adalah jawaban atas polycrisis itu,” kata Robi.

Diskusi dalam konferensi turut membahas perkembangan geopolitik, kerja sama ekonomi antarnegara, serta gangguan pada jalur perdagangan strategis. Berbagai dinamika tersebut dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dan rantai pasok global.

Duta Besar Iran Tekankan Pentingnya Hukum Internasional

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyoroti pentingnya penghormatan terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan hukum internasional dalam menjaga perdamaian, keamanan, serta stabilitas dunia.

Ia menegaskan bahwa setiap negara, terlepas dari kekuatan dan pengaruhnya, perlu menghormati prinsip kesetaraan kedaulatan, integritas wilayah, dan nonintervensi.

Menurut Boroujerdi, penerapan hukum internasional secara konsisten diperlukan untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan, memperkuat akuntabilitas, dan mendorong keadilan dalam hubungan antarnegara.

Pembahasan ini menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif mengenai tata kelola global dan pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi berbagai krisis.

Hadirkan Pembicara dari Tujuh Negara

ICGI 2026 menghadirkan sejumlah akademisi dan tokoh dari berbagai negara. Di antaranya Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi dari Indonesia, Prof. Hamdan Daniel, Ph.D., dari Malaysia, Dr. Tufan Kutay Boran dari Turki, serta Madam Mona Hwaila yang mewakili Grand Mufti Australia, Prof. Dr. Sheikh Salim Alwan.

Pembicara lainnya adalah Dr. Sharif Abu Shamalla dari Palestina dan Dr. Sheikh Mohammad Altafurahman dari Thailand.

Pertemuan lintas negara tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai tata kelola global, dinamika ekonomi internasional, serta tantangan ketahanan energi dan pangan.

Melalui diskusi akademik, para peserta diharapkan dapat memperluas pemahaman mengenai berbagai pendekatan untuk merespons krisis yang saling berkaitan.

UNAS Siapkan Rekomendasi Kebijakan

Sebagai tindak lanjut konferensi, penyelenggara berencana menerbitkan Policy Brief Beyond 2030 Framework. Dokumen ini akan merangkum gagasan dan rekomendasi kebijakan yang muncul dalam diskusi untuk menjadi bahan pertimbangan bagi para pengambil keputusan.

Penerbitan dokumen tersebut diharapkan dapat membantu menjembatani diskusi akademik dengan penyusunan kebijakan yang relevan terhadap tantangan global.

Melalui penyelenggaraan ICGI ke-3, UNAS menegaskan komitmennya memperkuat peran perguruan tinggi sebagai ruang dialog internasional. Konferensi ini juga menjadi upaya mendorong kontribusi ilmu pengetahuan dalam merumuskan respons terhadap tantangan global menjelang 2030 dan sesudahnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap