Andy Java Soroti Rencana Geothermal di Gunung Tampomas, Sumedang

oleh
Gunung Tampomas di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, memiliki nilai ekologis sekaligus makna sejarah dan budaya bagi masyarakat setempat. Wacana pemanfaatan panas bumi di kawasan ini mendorong seruan agar kajian lingkungan dan sosial budaya dilakukan secara transparan serta melibatkan masyarakat. (Foto: Dokumentasi/Ilustrasi)
1.1K pembaca

Isu rencana pemanfaatan panas bumi atau geothermal di kawasan Gunung Tampomas, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, menjadi perhatian pemerhati lingkungan dan budaya, Andy Java. Ia mengingatkan pentingnya mempertimbangkan fungsi ekologis, nilai sejarah, serta kearifan lokal sebelum mengambil keputusan terkait pemanfaatan kawasan tersebut.

Gunung Tampomas yang memiliki ketinggian sekitar 1.684 meter di atas permukaan laut bukan hanya bagian dari bentang alam Sumedang. Bagi sebagian masyarakat, gunung ini juga memiliki nilai identitas, sejarah, dan budaya yang diwariskan lintas generasi.

Kekhawatiran tersebut tercermin dalam sejumlah ungkapan yang berkembang di tengah masyarakat, antara lain, “Sumedang Puseur Budaya Sunda, Lain Puseur Bor”, “Tampomas Titipan Karuhun, Teu Dijual”, dan “Tampomas Titipan Karuhun, Pamali Digali”.

Ungkapan berbahasa Sunda tersebut menggambarkan pesan agar Gunung Tampomas dijaga sebagai warisan leluhur, bukan semata-mata dipandang sebagai kawasan yang memiliki potensi ekonomi.

Gunung Tampomas dan Warisan Leluhur

Dalam pandangan budaya Sunda, gunung memiliki kedudukan penting sebagai bagian dari keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat. Gunung Tampomas juga dipandang memiliki peran ekologis, termasuk berkaitan dengan sumber air yang menopang kebutuhan warga, pertanian, dan perkebunan di sekitarnya.

Selain aspek lingkungan, kawasan Tampomas disebut menyimpan nilai sejarah dan budaya yang berkaitan dengan warisan leluhur Sumedang. Nilai tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pemanfaatan kawasan gunung perlu mempertimbangkan aspek pelestarian.

Andy Java menilai, kerusakan lingkungan di Gunung Tampomas berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas daripada sekadar perubahan bentang alam. Menurutnya, kelestarian lingkungan berkaitan erat dengan keberlanjutan sumber air, kehidupan masyarakat, dan upaya menjaga identitas budaya Sumedang.

Karena itu, ia mengingatkan agar kepentingan ekonomi tidak mengesampingkan perlindungan lingkungan dan warisan budaya.

Kekhawatiran terhadap Rencana Geothermal

Rencana pemanfaatan panas bumi di kawasan Gunung Tampomas turut memunculkan pertanyaan mengenai potensi dampak lingkungan dan sosial. Sejumlah hal yang menjadi perhatian meliputi kondisi mata air, aktivitas pengeboran, kebisingan, getaran, serta kemungkinan pengaruh kegiatan proyek terhadap situs yang memiliki nilai sejarah atau budaya.

Andy Java berpandangan bahwa pengembangan energi baru dan terbarukan harus dilaksanakan dengan memperhatikan kondisi lingkungan setempat. Menurutnya, label energi hijau tidak dengan sendirinya menghilangkan kebutuhan untuk mengkaji risiko setiap proyek.

Kajian lingkungan, sosial, dan budaya dinilai perlu dilakukan secara terbuka dengan melibatkan masyarakat yang berpotensi terdampak.

Pertanyaan mengenai ketersediaan data lingkungan, kondisi sumber air, lokasi kegiatan, serta kemungkinan dampak terhadap situs budaya perlu dijawab melalui kajian yang dapat diperiksa publik. Dengan demikian, perdebatan tidak hanya bertumpu pada kekhawatiran maupun janji manfaat, tetapi juga pada informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Andy Java Minta Dialog dengan Masyarakat

Andy Java menegaskan bahwa penolakan terhadap risiko lingkungan tidak harus dimaknai sebagai penolakan terhadap pembangunan. Menurutnya, pembangunan perlu dijalankan secara adil, transparan, dan menghormati kearifan lokal.

Ia menilai masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Tampomas perlu memperoleh informasi yang memadai dan dilibatkan sejak tahap perencanaan. Partisipasi warga dinilai penting agar keputusan yang diambil mempertimbangkan kondisi lingkungan, kebutuhan masyarakat, serta nilai sejarah kawasan.

Keterbukaan informasi juga diperlukan untuk menjelaskan status rencana proyek, hasil kajian yang tersedia, potensi manfaat ekonomi, dan langkah mitigasi apabila ditemukan risiko lingkungan.

Dengan dialog yang terbuka, masyarakat dapat menyampaikan aspirasi sekaligus memperoleh penjelasan mengenai dasar pengambilan keputusan.

Menjaga Tampomas untuk Generasi Mendatang

Bagi Andy Java, Gunung Tampomas merupakan warisan alam dan budaya yang perlu dijaga untuk generasi mendatang. Ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak semestinya hanya dinilai dari manfaat ekonomi jangka pendek, tetapi juga dari dampaknya terhadap sumber daya alam, kehidupan sosial, dan identitas daerah.

Pesan “Tampomas Titipan Karuhun” menjadi pengingat mengenai tanggung jawab bersama dalam merawat warisan leluhur. Upaya menjaga kawasan tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari menjaga marwah Sumedang sebagai salah satu pusat kebudayaan Sunda.

Perdebatan mengenai rencana geothermal di Gunung Tampomas membutuhkan informasi yang transparan, kajian yang dapat dipertanggungjawabkan, serta ruang dialog yang melibatkan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, pertimbangan energi, kelestarian alam, dan perlindungan budaya dapat dibahas secara lebih menyeluruh.

Andy Java
Pemerhati Lingkungan dan Budaya

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap