Home / Artikel / Apa Khabar Pasar Tradisional, Fisikmu Bau Menyengat

Apa Khabar Pasar Tradisional, Fisikmu Bau Menyengat

Jakarta, sketsindonews – Bentuk fisik wajah pasar tradisional yang tersebar di wilayah Jakarta Pusat kondisinya semakin memprihatinkan. Selain kotor dan sumpek, sampah yang berserakan di pasar sering mengeluarkan bau menyengat yang membuat pengunjung pasar enggan berlama-lama berbelanja di pasar tradisional.

Menurut sejumlah pedagang di beberapa pasar tradisional, sejauh ini tidak ada perhatian dari pihak PD Pasar Jaya selaku Leding Sektor dalam mengelola pasar tradisional di Jakarta.

“Pasar Serdang, Kemayoran ini, kondisi sudah tidak layak. Bahkan keberadaan pasar yang sudah puluhan tahun tersebut tidak pernah disentuh untuk perbaikan,” kata Joko Sardjono Pengamat Lingkungan Hidup. (28/1)

sampah pasar. doc

Menurut dia, pihak PD Pasar Jaya cuma ngomong doang dan ngumbar janji dimana konsep Pasar Tradisional di laksanakan secara terintegrasi baik penataan lingkungan pasar.

Makanya saya sapa, “Apa Khabar Pasar Tradisional Nasibmu Lebih Buruk Secara Fisik” dari dulu cuma janji manis mau dibangunlah. Tapi nyatanya sampai sekarang, pasar di Jakarta Pusat tidak direvitalisasi,” tandasnya.

Ada beberapa titik pasar yang terlihat kondisinya sangat prihatin, diantaranya Pasar Serdang, Pasar Ksbon Melati, Pasar Gardu Asam dan Pasar Karang Anyar yang awalnya akan dibangun pada tahun 2018 hingga saat ini tak jelas, terang Joko yang akrab di sapa Joko Edan.

Pantauan sketsindonews.com dilapangan, wajah pasar tradisional yang kondisinya rusak berat juga ditemukan di pasar Timbul Kartini, Sawah Besar. Selain mengeluarkan aroma bau menyengat dari sampah pedagang yang ditumpukan di countener depan pasar, kondisi pasar ini juga hampir ambruk.

Menanggapi masalah ini, Ketua Lembaga Pemantau Penyimpangan Aparatur Daerah (LP2AD) Victor Irianto Napitupulu menyatakan, keprihatinannya terhadap pasar tradisonal yang dikelola PD Pasar Jaya. Menurutnya, pihak PD Pasar Jaya selaku laeding sektor yang mengelola keberadaan pasar tradisional hanya menguntung kan diri sendiri dari sewa menyewa para pedagang. Tanpa memperhatikan keberadaan pasar yang semakin hari semakin kumuh, kotor dan semrawut.

“Seharusnya pasar tradisional dapat tertata dengan rapih. Sehingga masyarakat bisa nyaman mengunjungi pasar tersebut. Tapi ironisnya keberadaan pasar di DKI ini malah kumuh dan semrawut seperti itu,” ungkap Victor, Minggu (28/01) sore.

Ia pun menyayangkan, pengelolaan aset BUMD ini dinilai management seperti “warung kopi dan tidak profesional”.

Victor kembali menegaskan, terkait dengan pasar ada Peraturan Daerah (Perda) nomor: 2 tahun 2002 tentang perpasaran, dan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 53/M-DAG/PER/12/2008 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.

“Jadi semestinya, Dampak dari kekumuhan pasar tidak boleh terjadi apalagi berimbas pada lingkungan. Seperti parkir motor dan pedagang hingga ke badan jalan akibat area kondisi pasar tidak dapat menampung. Contohnya pasar Gardu Asem puluhan tahun tidak pernah disentuh dan keberadaannya sudah tidak layak lagi dan harus direvitalisasi segera,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia menegaskan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dapat mengaudit pengelolaan keuangan PD Pasar Jaya. “BPK harus audit pengelolaan keuangan PD. Pasar Jaya,” tegasnya.

Sementara Dirut PD. Pasar Jaya Arif Nasrudin saat di konfirmasi saat ditanyakan progress revitalisasi pasar hingga berita ini diturunkan belum bisa menyampaikan tanggapan terkait beberapa Pasar yang kumuh dan pengelolaan management pasar tradisional.

reporter : nanorame

 

Check Also

Apa Kata Warga, Kemayoran Kembali Juara Festival Bedug Ramadhan 1439 H Tingkat Kota Jakarta Pusat

Jakarta, sketsindonews – Tak salah Kecamatan Kemayoran menjadi juara pertama selama 2 kali berturut – …

Watch Dragon ball super