Home / Artikel / Bermegah di dalam Tuhan

Bermegah di dalam Tuhan

Yeremia 9:23-24 

Renungan – Naluri manusia memiliki tujuan agar dapat memperoleh hidup bahagia.

Untuk mendapatkan kebahagiaan itu, manusia berlomba dengan menempuh pendidikan setinggi-tingginya, bekerja keras, dan kemudian mendapatkan kekayaan.

Namun, ketika manusia mendapatkan semua itu, apakah ia sudah memperoleh kebahagiaan?

Manusia memang menjadi bijak (pintar) melalui pengalaman hidup dan dengan pendidikan. Tetapi itu tidak menjamin ia bahagia.

Itu sebabnya dikatakan, janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya.

Demikian juga kekuatan dan kekayaan yang dicari dan diperoleh dengan berlelahlelah, itupun tidak menjadi jaminan manusia memperoleh kebahagiaan.

Di zaman yang makin moderen ini, kebaikan Tuhan sesungguhnya makin dirasakan manusia, dimana Tuhan memberikan berbagai fasilitas dan kemampuan bagi manusia.

Kehidupan manusia makin sehat, makin kuat, makin kaya, makin cangggih.

Jika orang-orang para pendahulu kita, yang telah meninggal satu atau dua generasi sebelumnya bisa bangun dari kuburnya, dan membandingkan kehidupan di zamannya dengan kehidupan masa kini, ia akan akan berdecak kagum, ‘wao’.

Perikop ini mengajak umat beragama lebih dahulu memahami dan mengenal Allah, sebagai Tuhan sumber kepintaran, kekuatan dan kekayaan.

Jika umat telah memahami dan mengenal bahwa apa yang dimilikinya di dunia ini semua bersumber dari DIA, maka tidak akan mungkin lagi orang memegahkan diri dengan apa yang dia miliki seolah-olah semua itu ada karena usahanya sendiri.

Untuk hal itulah maka kita perlu memahami dan mengenal Allah, karena dengan demikian kita mampu menempatkan diri dan menggunakan yang kita miliki bukan sebagai alat kekuasaan tetapi sebagai alat mendatanagkan damai sejahtera Allah di dunia.

Memang bukan perkara yang mudah untuk tidak bermegah karena hal-hal yang lahiriah. Namun menurut saya kuncinya adalah pada hati kita.

Tuhan sendiri berfirman, “di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:21). Artinya adalah apa saja hal-hal yang kita anggap berharga, di situlah hati kita berada.

Ketika kita menganggap kekuatan, kepintaran, kesehatan, kekayaan, dan lain sebagainya sebagai hal-hal yang berharga, maka di situlah hati kita berada, sehingga kita pun tidak dapat memberikan hati kita kepada Tuhan.

Oleh karena itu, kita harus memiliki hati yang rendah hati, yang sadar bahwa segala sesuatu itu adalah “sampah” yang tidak berarti dibandingkan dengan Tuhan (Flp 3:8).

Saat itulah maka kita akan mampu bermegah dalam Tuhan, ketika Tuhan menjadi harta kita yang paling berharga dalam kehidupan kita. Amin.

(Renungan HKBP Ujung Menteng)

Check Also

Sangat Sulit LHP DKI 2018 Dapat WTP Dari BPK

Jakarta, sketsindonews – Pengamat kebijakan publik Amir Hamzah memprediksi opini yang diberikan Badan Pemeriksa Keuangan …

Watch Dragon ball super