Home / Profile / Komunitas / Indonesia Penderita Kanker Serviks Tertinggi Di Dunia

Indonesia Penderita Kanker Serviks Tertinggi Di Dunia

Jakarta, sketsindonews –  Sebagai Tim Kesehatan yang peduli terhadap kondisi kesehatan masyarakat Indonesia, dengan konsen terhadap kegiatan penyuluhan dan cek kesehatan gratis terhadap masyarakat.

Tim kesehatan Dara Harita pada hari Minggu (11/6), sejak pukul 15.30 hingga buka puasa tiba adakan Penyuluhan dan Sosialosasi tentang Kanker Serviks, Pencegahan dan Penanganannya, di Kampung Lauser, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan atau yang lebih dikenal dengan Kampung Pancasila.

Ketua Bidang Pendidikan dan Pengembangan Organisasi Lembaga Bantuan Hukum Tridharma Indonesia yang juga pengacara yang konsen terhadap kasus-kasus kesehatan, Sugiri, S. H, M. H hadir sebagai pemateri yang mengungkapkan data dari Badan Kesehatan Dunia.

“Data Badan Kesehatan Dunia atau WHO menyebutkan bahwa saat ini penyakit kanker serviks menempati peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di dunia,” ungkap Sugiri.

Di Indonesia, menurutnya melalui data WHO diketahui bahwa setiap tahunnya terdeteksi lebih dari 15.000 kasus kanker serviks, dan sekitar 8.000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian.

“Menurut WHO, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita kanker serviks tertinggi di dunia, Pasalnya, kanker sulit sekali dideteksi hingga penyakit telah mencapai stadium lanjut, kanker Serviks disebabkan Virus bernama Human Papiloma Virus (HPV),” ungkapnya.

Dia menjelaskan, tanda-tanda dan gejalanya terbagi dua untuk stadium awal tanpa gejala dan untuk stadium lanjut terjadinya perdarahan saat hubungan suami istri, keputihan yang berbau dan nyeri perut bawah.

“Di tahap awal tidak bergejala jadi wanita dapat saja terkena kanker serviks tanpa diketahuinya,” ujarnya.

“Saya menilai, masyarakat masih awam dan mereka banyak ingin tahu tentang seluk beluk penyakit kanker serviks ini. Pencegahan yang dapat dilakukan secara umum untuk penyakit kanker serviks dapat dilakukan dengan pencegahan primer melalui penyuluhan,edukasi dan vaksinasi serta pencegahan sekunder yaitu skrining lesi prakanker melalui papsmear, IVA (Inveksi Visualisasi Asetat),” tambahnya.

Dalam penyuluhan tersebut, ada pertanyaan dari peserta yang cukup antusias terkait bagaimana resiko penggunaan pembalut kaitanya dengan kanker serviks?

Sugiri menjawab “Menurut peneliti YLKI, Arum Dinta, penggunaan klorin pada pembalut bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan di organ kewanitaan mulai dari iritasi, gatal, keputihan hingga kanker serviks”.

Sementara, Koordinator Tim Kesehatan Dara Harita Citra Marchela, Amd. An menjelaskan bahwa kegiatan penyuluhan ini juga sebagai pengabdian para profesional medis yang memiliki tanggung jawab pada kesehatan masyarakat.

“Hal ini untuk menggugah para profesional medis lain agar turut aktif berperan di luar tempat praktek seperti rumah sakit, puskesmas, klinik dan lain-lain,” harapnya.

Menurutnya, target kegiatan ini adalah masyarakat berjenis kelamin wanita pada khususnua karena wanita lah yang rentan terkena kanker serviks. Namun juga tak ditutup bagi para lelaki yang juga ingin mengetahui tentang kanker serviks.

“Mengingat, kanker serviks adalah pembunuh nomor wahid di Indonesia bahkan dunia,” ujarnya.

Dia berharap setelah kegiatan ini, masyarakat dapat lebih peka untuk merawat diri agar tercegah dari penyakit kanker serviks. “Dan juga dapat menyebar luaskan pengetahuan yang didapat dari penyuluhan ini kepada masyarakat lainnya,” pungkasnya.

(Eky)

Check Also

Kampung WiFi dan Serenisasi di Utan Panjang Membangun Ekosistem Lingkungan Sehat

Jakarta, Warga RW 09 Keluarahan Utan Panjang Kemayoran Jakarta Pusat kini bisa tersenyum bangga pasalnya …

Watch Dragon ball super