Back

Media Terpercaya

Kapuspenkum Kejagung Hari Setiyono: ‘Uang dari Djoko Tjandra untuk Foya-Foya’

Jakarta sketsindonews – Kasus dugaan tindak pidana korupsi dan pencician uang atas nama Jaksa Pinangki Sirna Malasari tak lama lagi disidangkan ke Pengadilan Tipikot Jakarta.
Ia didakwa dengan pasal berlapis, yakni: Pasal 5 ayat 2 jo. Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999. Kemudian Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tipikor. Pasal 3 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Selanjutnya, Pasal 15 Jo. Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tipikor dan Pasal 15 Jo. Pasal 13 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999.

Hal tersebut diungkapkan Kapuspenkum Kejaksaan Agung, Hari Setiyono dalam keterangan tertulisnya, Kamis (17/9/20) malam.

Menurutnya, Jaksa Sirna akan diajukan ke meja hijau dengan dakwaan komulatif yakni mengenai pasal tindak pidana korupsi dan pecucian uang atau TPPU.

“Jaksa PSM, akan diajukan sebagai terdakwa ke pengadilan tipikor Jakarta dengan Dakwaan Komulatif,” tulis Hari.

Hari menjelaskan perempuan bergelar doktoral itu, bersama Anita Kolopaking, dan Andi Irfan Jaya bertemu dengan Joko Soegiarto Tjandra terpidana kasus korupsi cessie Bank Bali di Kantornya yang terletak di The Exchange 106 Lingkaran TrX Kuala Lumpur, Malaysia.

“Saat itu, Joko Soegiarto Tjandra setuju meminta agar Pinangki Sirna Malasari dan Anita Kolopaking untuk membantu pengurusan fatwa ke Mahkamah Agung RI melalui Kejaksaan Agung,” cerita dia.

Tujuannya kata Hari, agar pidana terhadap Joko Soegiarto Tjandra berdasarkan Putusan PK Nomor:12 PK/ Pid.Sus/2009 Tanggal 11 Juni 2009 tidak dapat dieksekusi sehingga Joko Soegiarto Tjandra dapat kembali ke Indonesia tanpa harus menjalani pidana.

Atas permintaan tersebut, lanjut pria yang pernah menjabat Kasi Pidsus di Kejari Jakbar, Jaksa Pinangki Sirna Malasari dan Anita Kolopaking setuju memberikan bantuan tersebut. Asalkan dengan syarat Joko Soegiharto Tjandra memberikan imbalan, berupa sejumlah uang sebesar 1.000.000 USD untuk isteri perwira polisi.

“Uang itu untuk pengurusan perkara tersebut namun akan diserahkan melalui pihak swasta yaitu Andi Irfan Jaya selaku rekan dari Pinangki,” aku dia.

Hal itu sambung Hari, sesuai dengan proposal berjudul “action plan” yang dibuat oleh Jaksa Pinangki dan kemudian diserahkan oleh Andi Irfan Jaya kepada Joko Soegiarto Tjandra.

Diimbuhkan mantan koordinator Pidsus, pemilik usaha grup Mula sepakat dengan persyaratan yang diajukan Jaksa Pinangki, dengan memberikan uang sejumlah 10.000.000 USD kepada pejabat di Kejaksaan Agung dan di Mahkamah Agung.

“Itu untuk keperluan mengurus permohonan fatwa ke Mahkamah Agung melalui Kejaksaan Agung,” terang dia lagi.

Selanjutnya, masih kata Hari, Joko Soegiarto Tjandra memerintahkan adik iparnya almarhum Herriyadi Angga Kusuma. Untuk memberikan uang kepada. Jaksa Pinangki melalui Andi Irfan Jaya.

“Diserahkanlah uang sebesar 500,000 USD, sebagai panjar dari kesepetakatan awal senilai satu juta dolar,” ia menjelaskan.

Selanjutnya, Andi Irfan Jaya amanah dari Joko Tjandra kepada Jaksa Pinangki sebesar 500,000 USD. Kemudian dirinya membeberkan, dari uang 500,000 USD tersebut, perempuan kelahiran Kota Yogjakarta.

“Sebagian diberikan kepada Advokat Anita Kolopqking, 50,000 USD sebagai pembayaran awal jasa penasehat hukum,” tutur dia.

Sedangkan sisanya ia menambahkan, sebesar 450.000 USD masih dalam penguasaan Jaksa. Pinangki Sirna Malasari. Namun dalam perjalanan menurut Hari Setiyono, ternyata rencana yang tertuang dalam surat “action plan” di atas tidak ada satupun yang terlaksana.

Padahal Joko Soegiarto Tjandra telah memberikan down payment sejumlah 500.000 USD kepada Andi Irfan Jaya,

Sehingga Joko Tjandra pada bulan Desember 2019 membatalkan action plan dengan memberikan catatan pada kolom catayan dari action plan tersebut dengan tulisan tangan “NO”” ungkap pemilik nama lengkap Hari Setiyono SH MH.

Kemudian sisa uang sebesar 450,000 USD yang berada dalam penguasaan Jaksa Pinangki Sirna Malasari, dia juga menuturkan, lalu dilakukan penukaran valas melalui Sugiarto dan Beni Sastrawan sopirnya.

“Dari hasil penukaran valas tersebut, dia belikan mobil BMW X-5, pembayaran dokter kecantikan di Amerika, pembayaran sewa apartemen atau hotel di New York, Amerika,” imbuh dia lagi sembari menambahkan, pembayaran dokter home care, pembayaran kartu kredit, dan transaksi lain untuk kepentingan pribadi Pinangki.

Selain itu juga ada pembayaran sewa Apartemen Essence Darmawangsa dan Apartemen Pakubowono Signature yang menggunakan cash atau tunai USD.

“Sehingga atas perbuatan dia, patut diduga sebagai perbuatan tindak pidana pencucian uang yang berasal dari tindak pidana Korupsi,” kata Hari mengakhiri.

(Sofyan Hadi)

About the Author /

Pimpinan Perusahaan SketsIndo Juni 2016.