Mantan Jampidsus Adi Toegarisman: Penegak Hukum Adalah Pilihan

Bogor, sketsindonews – Begitu cepat berlalu tak terasa dipengujung waktu. Hanya ada air mata yang bisa memberikan kesan kepadamu. Selamat jalan di tempat yang baru doa kami menyertaimu. Semoga bisa bertemu dilain waktu

Tiga puluh dua tahun sudah dilalui oleh seorang Adi Toegarisman sebagai komandan gedung bundar Kejaksaan Agung Ri. Telah banyak karya yang ia ciptakan untuk membangun negeri khususnya lembaga korps adhyaksa.

Salah satunya adalah penghargaan dari pemerintah pusat. Adi biasa disapa telah berhasil membangun zona integritas kerja berupa wilayah bebasa korupsi (WBK) dan wilayah bebas bersih dan melayani (WBBM).

“Ke depannya pastinya program ini tidak hanya sampai WBK saja tapi kita harus mewujudkan WBBM, tentu jajaran kami di Pidsus harus mencapai target WBBM yang ini akan dievaluasi dalam waktu satu tahun ke depan,” kata Adi Toegarisman kepada wartawan di Jakarta kala itu.

Jampidsus telah mendapatkan predikat WBK-WBBM tersebut. Dengan begitu banyak proses seleksi yang ketat serta harus bersaing dengan jajaran eselon I di lembaga penegak hukum.

Untuk itulah sebelum mengakhiri tugasnya sebagai Jampidsus, putra asli Pulau Madura bersama Kepala Badan Pendidikan dan Latihan (Kabandiklat), Kejaksaan, Setia Untung Arimulyadi ditunjuk oleh Jaksa Agung Sanitiar Burhaniddin agar menularkan virus-virus mujarab kepada lembaga kejaksaan di Indonesia.

      Perjalanan karir

Adi Toegarisman mulanya tidak menduga ia akan menjadi seorang penegak hukum meski dirinya dilahirkan dari keluarga korps Bhayangkara.

Meski sebelumnya tidak pernah berpikir bahwa ia akan berkecimpung di dunia hukum. Sebab setelah lulus dari sekolah menengah atas, ia sempat mengikuti tes AKABRI. Namun ia gagal saat menjadi taruna.

Dengan sisa semangat yang dimilikinya, ia pun mencoba mendaftar untuk kuliah di UNAIR dan ITS. Namun lagi-lagi ia gagal. Akhirnya ia pun menempuh pendidikan hukumnya di Universitas Surabaya dan lulus di tahun 1980.

Setelah lulus dari sekolah hukum, Adi mendaftar untuk mengikuti tes calon hakim. Namun sayang, lagi-lagi ia mengalami kegagalan. Ia pun memutuskan untuk berbelok arah ke dunia kejaksaan

Di sinilah kariernya moncer. Setelah menjadi Kasubsi Sos Bud, ia menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi Kepulauan Riau. Dan ia juga sempat menduduki jabatan sebagai Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung sebelum menjadi Direktur Penyidikan (Dirdik) pada Jampidsus di tahun 2012.

“Sebagai penegak hukum saya pikir adalah suatu pilihan yang pada akhirnya walaupun dari awal saya harus jujur tidak ada niat menjadi penegak hukum. Saya mengalir saja,” ujarnya saat ditemui sketsindonews.com di Bogor, Sabtu (29/2/20) pagi.

Ia melanjutkan setelah yakin dengan pilihan profesi yang akan dilakoni, dirinya pun berusaha untuk totalitas dan konsisten atas keputusan menjadi penegak hukum.

Namun menurut lelaki berzodiak pisces itu, semua kehidupan termasuk karir tetap dia jalani seperti air yang mengalir alami.

“Jadi ketika sudah bergabung dan sudah menempuh pendidikan jaksa serta menjadi jaksa. Akhirnya saya harus bersikap bahwa menjadi penegak hukum adalah pilihan,” tegasnya.

Artinya kata pria kelahiran 28 Februari 1960 silam, setelah menyandang gelar jaksa dirinya dituntut agar tetap fokus mengembangkan karirnya. “Karena sudah menjadi pilihan maka saya harus mempertahankan,” Adi menambahkan.

Ketika ditanya mengenai suka dan duka semasa menjalani tugas menjadi jaksa, Adi pun mengatakan, “Tidak ada dukanya,” timpal Adi.

Bahkan peraih gelar doktor ilmu hukum dari Universitas Padjajaran menuturkan, saat dirinya dihadapkan pada suatu kesulitan dia pun menjalaninya dengan ikhlas. “Dan ketika diberi kelancaran, harus menambah wawasan dan disyukuri,” terangnya

Dijelaskan lebih lanjut, soal tekanan pekerjaan dari pimpinan saat menangani suatu penanganan perkara pidana korupsi, dirinya memastikan hal tersebut tidak ada.

“Kalau dari pihak eksternal saya pastikan benar adanya,” ungkap Adi Torgarisman tanpa merinci siapa yang dimaksud.

Adi pun menjelaskan mengenai tekanan dalam perkejaan merupakan sebuah konsekuensi dari pilihan profesi penegak hukum. “Tapi saya katakan tadi sebagai penegak hukum adalah pilihan, saya harus menghadapi. Maka tekanan itu tidak ada masalah tetapi bisa menjadi peluang.,” tutur dia lagi.

Bahkan beber Adi, saat menangani perkara berskala besar, dari segi kerugian negara maupun tersangka kalangan pejabat elit. Dirinya akan mengungkapkan fakta yang seluas-luasnya. Dalam artian katanya, penegakan hukum harus berdasarkan fakta riil yang ada.

“Ketika fakta riil yang saya dapat maka hambatan berlalu bergitu saja. Yang menjadi hambatan seorang penegak hukum ketika fakta belum akurat tetapi sudah menyimpulkan suatu masalah melebihi kualitas dari fakta sebenarnya. Itu problem. Selama saya berjalan dan clear, itu kendala tidak ada masalah,” ia menjabarkan.

      Menghadapi Teror

Adi Toegarisman hanyalah manusia biasa. Maka tatkala ia tengah memproses suatu perkara korupsi, dirinya berada dalam bayang-bayang teror kepentingan.

Sebab kata lelaki yang dibesarkan di Kota Pahlawan, menganggap teror bukan merupakan kendala melainkan sebuah peluang untuk membuktikan yang dilakukannya adalah penegakan hukum.

“Konsepnya sebagai penegak hukum harus sesuai aturan, hukum acaranya jangan sampai luput. Fakta hukum harus maksimal dan penyampaian informasi kepada masyarakat tentang penyelesaian perkara sesuai dengan fakta hukum yang kita dapat,” urainya lagi.

Adi mengingatkan kepada para penegak hukum khususnya kejaksaan agar tidak mengungkapkan bukti yang belum cukup kepada publik. “Jangan sampai kita sudah dapat (alat bukti dan barang bukti), seperempat, tp bilang setengah. Belum apa-apa sudah bilang oke. Itu yang saya hindari. Jadi saya bicara bahwa fakta hukumnya sudah setengah sy bilang setengah. Kalau belum saya bilang belum,” ingatnya.

(Sofyan Hadi)