Para Budayawan Protes Tolak Revitalisasi TIM dan Pergub 63 Tahun 2019

Jakarta, sketsindonews – #Save Tim Itulah bunyi protes Forum Seniman Peduli TIM, diterima oleh Komisi X DPR-RI, Dede Yusuf, Rano Karno dkk. yang membidangi urusan kebudayaan. Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) antara para seniman dengan para wakil rakyat berlangsung, Selasa (18/02/20) siang tadi.

Dalam penyampaian moratorium para aksi seniman dan budayawan menyampaikan, sudah tiga bulan lebih, Forum Seniman Peduli TIM yang mengusung tagar #saveTIM itu tanpa lelah melakukan berbagai aksi menolak Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 63 Tahun 2019, yang memberi kewenangan kepada BUMD Pemprov. DKI Jakarta, PT Jakarta Propertindo (Jakpro) untuk mengelola TIM, kelak ketika usai kegiatan pembongkaran dan pembangunan, yang tengah berlangsung sekarang ini.

Disebutkan, Jakpro yang tugas pokoknya merawat gedung-gedung DKI itu, nantinya diserahi tugas untuk mengkomersialkan seluruh ruang dan bangunan, menarik penghasilan dari penyewaan 200 kamar hotel, dari area parkir bawah tanah seluas lapangan bola, serta dari media iklan elektronik luar ruang yang akan dipasang di tempat-tempat strategis di kawasan TIM.

Kegiatan kapitalistik itu, menurut Pergub yang dibuat tanpa melibatkan pendapat Akademi Jakarta dan Dewan Kesenian Jakarta, akan berlangsung selama 28 tahun (dan ada kemungkinan kelak akan diperpanjang sampai 100 tahun).

Mereka dipimpin oleh budayawan Radhar Panca Dahana, dan Noorca M. Massardi. Dikabarkan, Dolorosa Sinaga, seniman patung sekaligus pengajar di Institut Kesenian Jakarta, Putu Wijaya, Nano Riantiarno, Rayni Massardi, Irma Hutabarat, dan beberapa tokoh lainnya, yang sangat mencemaskan nasib TIM.

Menurut Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Rano Karno sepakat untuk moratorium revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM).

Revitalisasi itu tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 63 Tahun 2019 tentang Penugasan kepada PT Jakarta Propertindo (Jakpro) untuk Revitalisasi Pusat Kesenian Jakarta TIM.

Menurut Rano ketika RDPU antara Komisi X dengan Forum Seniman Peduli TIM di kompleks DPR-MPR, Senayan, Jakarta, Senin (17/02/20).

“Saya sangat terkejut, dan saya yakin teman-teman seniman dan budayawan pasti tersinggung apabila membaca di Pergub itu disebut bahwa TIM hanya sebuah lahan. Dimana kita para seniman dan budayawan?” ujar Rano.

Rano pun menjelaskan sejarah terbentuknya TIM. Dahulu, sebelum TIM terbentuk, para seniman dan budayawan suka berkumpul di sebuah bioskop di Pasar Senen.

Kala itu, tepatnya di era 1960an-1970, dunia seni Indonesia memang sedang ‘mati suri’. Kemudian para seniman dan budayawan seperti Ramadhan KH mendatangi rumah Gubernur DKI kala itu, Ali Sadikin, untuk menggelar pertemuan. Dari pertemuan itulah, inisiatif pembangunan TIM muncul.

Rano pun terkejut, para budayawan tidak dilibatkan dalam revitalisasi TIM. “Padahal seharusnya, Gubernur berkonsultasi dengan Dewan Kesenian Jakarta sebelum merancang apa yang disebut revitalisasi itu,” ujar Rano.

(Nanorame)