Home / Hukum dan Kriminal / Polisi Ungkap Dugaan Korupsi dan TPPU Bank Jateng Senilai Ratusan Miliar

Polisi Ungkap Dugaan Korupsi dan TPPU Bank Jateng Senilai Ratusan Miliar

Jakarta, sketsindonews – Bareskrim Polri melalui Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dittipikor) Polri ungkap dugaan korupsi terkait pemberian kredit proyek di Bank Jateng cabang Jakarta tahun 2017 hingga 2019.

Wakil Direktur Tindak Pidana Korupsi, Komisaris Besar Cahyono Wibowo mengatakan, berdasarkan laporan polisi Nomor LP/0093/II/2021/Bareskrim tanggal 11 Februari 2021, dan LP/0094/II/2021/Bareskrim, Tanggal 11 Februari 2021 ditetapkan dua orang tersangka yakni, Bina Mardjani selaku Pimpinan Bank Jateng cabang Jakarta, dan Bambang Supriyadi selaku Direktur Utama PT. Garuda Technology.

“Berkas perkara telah dinyatakan lengkap (P.21) oleh JPU Kejagung RI” ujar Cahyono kepada wartawan di Gedung Mabes Polri, Jakarta, Senin (27/12/21).

Ia merinci, berkas perkara TPK (Tindak Pidana Korupsi) atas nama Bina Mardjani Nomor B.82/F.3/Ft.1/12/2021 tanggal 23 Desember 2021, berkas perkara TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) atas nama Bina Mardjani Nomor B-80/F.3/Ft.1/12/2021, Tanggal 23 Desember 2021, dan berkas perkara TPK atas nama Bambang Supriyadi Nomor B.81/F.3/Ft.1/12/2021 tanggal 23 Desember 2021.

Cahyono menjelaskan, tersangka (Bina Mardjani) adalah mantan Pimpinan Bank Jateng cabang Jakarta, dengan wewenangnya sebagai pemutus kredit proyek telah melakukan perbuatan melawan hukum dengan menyetujui kredit proyek yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Menerima fee satu satu persen dari nilai proyek yang dicairkan debitur. Kerugian keuangan negara yang dilakukan Bina Mardjani diduga mencapai Rp. 307,94 miliar.” ucapnya.

Kemudian, tersangka (Bambang Supriyadi) merupakan Direktur Utama PT. Garuda Technology, yang melakukan rekayasa kontrak kerja proyek sebagai dasar oengajuan kredit proyek di Bank Jateng cabang Jakarta.

“Tersangka memberikan uang imbal jasa kepada Bina Mardjani sebanyak tiga kali, masing-masing sebesar Rp. 1 miliar, yang kedua Rp. 300 juta dan yang ketiga Rp. 300 juta, total sebesar Rp. 1,6 miliar dengan tujuan sebagai imbal jasabatas persetujuan kredit PT. Garuda Technology” katanya.

Kerugian keuangan negara yang dilakukan Bambang Supriyadi diduga mencapai Rp. 174,44 miliar.

Adapun barang bukti yang disita yaitu, pembayaran pekerjaan yang dilakukan oleh PT. MDSI di PLN Teluk Sirih sebesar Rp. 3,88 miliar, pembayaran premi asuransi Askrindo terhadap 14 kredit proyek dengan total Rp. 6,31 miliar, pengembalian cash collateral PT. Garuda Technology sebesar Rp. 200 juta, uang dari analis kredit sebesar Rp. 10 juta, uang hak tagih pembayaran dari PT. Inti ke PT. Garuda Technology sebesar Rp. 110 juta, uang hasil pengelolaan Hotel C3 Ungaran sebesar Rp. 367 juta.

Lalu, sebidang tanah seluas 1.242 meter persegi di Ngablak, Wonosegoro, Boyolali, Jawa Tengah senilai Rp. 100 juta, dan Sebidang tanah seluas 901 meter persegi di Suruh, Semarang, Jawa Tengah senilai Rp. 200 juta.

Para tersangka dijerat Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 20 Tahun 2001, tentang perubahan atas Undang-Undang No. 31 Tahun 1999, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 3 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. (Fanss)

Check Also

Tertipu Investasi, Gasni Berharap Laporannya Segera Ditangani

Jakarta, sketsindonews – Sehy Moh Gasni berharap dugaan penipuan yang dilaporkan ke Polsek Cilincing pada …

Watch Dragon ball super