Back

Media Terpercaya

Sidang Kasus Tanah di Cakung Barat Hadirkan 3 Saksi BPN Jaktim

Jakarta, sketsindonews – Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) gelar sidang dugaan Pemalsuan Surat dengan nomor perkara 993/Pid.B/2020/PN Jkt.Tim, Kamis (15/10/20).

Sidang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim, Khadwanto serta didampingi anggota Muarif dan Lingga Setiawan tersebut digelar dengan agenda mendengarkan keterangan saksi.

3 saksi pegawai Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jaktim dihadirkan untuk menjelaskan terkait permohonan 38 sertifikat tanah di Cakung Barat, Jakarta Timur.

Hadir sebagai saksi, Kepala Seksi Hubungan Hukum dan Pertanahan, Rini Minarsih menjelaskan bahwa tugasnya adalah memeriksa berkas dan konsep terkait permohonan atas tanah.

Rini juga mengatakan bahwa objek sengketa yakni tanah yang terletak di Cakung Barat, Jaktim tersebut ditangani oleh seksi lain.

Lanjutnya, dari sekian berkas yang diberikan pemohon, hanya satu berkas yang asli, selebihnya yakni 37 berkas lain dalam bentuk Foto copy.

“Surat hak itu dikeluarkan dari pemohon ada 38, Yang asli saat itu saya lihat satu. Jadi 38 sertifikat, 37 itu foto copy,” kata Rini.

Masih kata Rini, bekas permohonan tanah tersebut berdasarkan hasil kajian dari surat keterangan lurah girik C.

“Yang asli nomor dan materainya, saat itu penyidik yang menunjukkan saat itu penyidik membuka file,” jelas dia.

Saksi lain, Danang membuka kesaksian dengan memaparkan bahwa dia baru mulai bertugas di BPN Jaktim sejak tahun 2014, setelah sebelumnya sejak tahun 2006 dia bekerja di Kanwil Pertanahan DKI Jakarta.

Sementara untuk tanah yang sedang dipermasalahkan tersebut menurutnya dikerjakan oleh Prayoto, dimana saat ini Prayoto juga sedang menjadi terdakwa dalam sidang terpisah.

Dalam persidangan tersebut, Danang yang mengaku pada saat pengukuran masih bertugas sebagai pengelola data juga menyebut-nyebut nama Paryoto, Achmad Djufri dan Benny Simon Tabalujan.

“Saat itu saya bukan tugas ukur pada saat itu saya sebagai pengolah data. Pada saat itu (bagian pengolah data) Pak Paryoto,” jelas Danang.

Sebagai informasi Achmad Djufri sebagai terdakwa pemalsuan surat akta autentik diancam pidana menurut ketentuan pasal 266 ayat (1) jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan Pasal 263 ayat (1) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

(Eky)

About the Author /

Pimpinan Perusahaan SketsIndo Juni 2016.