1447 H
رمضان كريم
Marhaban Ya Ramadan
Semoga bulan suci ini membawa keberkahan, kedamaian, dan ampunan bagi kita semua.
✦ Mari sucikan hati, perbanyak ibadah, dan pererat silaturahmi ✦
Hengki Lumban Toruan
HENGKI LUMBAN TORUAN CEO & Founder Sketsa Indonesia

Hidup Bersama Kasih Allah

oleh
Ilustrasi
19.7K pembaca

Rut 2:8-16

Renungan, sketsindonews – Sangat kontras dengan kehidupan kita dewasa ini dimana sadar atau tidak sering mengukur orang dari siapa dia secara duniawi (suku, bangsa, kedudukan, tingkat pendidikan, kekayaan, dsb.) dan itu mempengaruhi kita, baik dalam hubungan dan perbuatan kita. Hal-hal keduniawaian sering lebih mempengaruhi kita dalam berbuat baik. Kita ambil contoh.

Bila ada kegiatan penghiburan terhadap anggota jemaat yang berduka, banyak tidakanya jemaat hadir umumnya dipengaruhi faktor kekerabatan secara adat ketimbang implikasi kerohanian. Demikian juga dalam kunjungan kepada orang sakit dan kegiatan diakonia lainnya.

Gambar

Kalau demikian, apa bedanya dengan dunia ini? Boas tidak demikian terhadap Rut. Walaupun masih ada faktor kekeluargaan, tapi implikasi imannyalah yang mendorong ia berbuat baik dengan menolong Rut.

Secara duniawi tidak ada yang dapat diharapkan dari Rut. Itulah sebabnya, keluarga yang paling dekat dengan Naomi yang seharusnya lebih bertanggungjawab “menebus milik puasaka” Naomi serta mengambil Rut menjadi istrinya (sesuai dengan kebiasaan di Israel pada waktu itu) menolaknya karena dianggap tidak menguntungkan, sebaliknya merugikan.

Tetapi satu hal yang pasti melalui kesaksian hidup Rut dan Boas, bahwa orang yang berbuat baik berdasarkan imannya, ia akan diberkati.

Itulah yang terjadi dalam kehidupan Boas dan Rut. Mereka menjadi moyang raja yang besar, yakni Daut.

Demikian juga akan berlaku atas kita, dan berkat yang spektakuler yang akan diberikan ialah diperkenankan hidup bersama Allah di Sorga. Benar perbuatan baik bukan menyelamatkan. Namun bukan berarti tidak penting.

Iman yang benar adalah iman yang nampak dalam sikap hidup berubah dan berbuah.

Berbuah berarti tidak sama dengan dunia ini (sikap hidup, pandangan hidup), dan berbuah berarti semakin hari semakin mampu melakukan perbuatan-perbuatan baik sebagai implikasi perubahan itu (action).

Benar akibat perubahan itu buahnya seharusnya pertama-tama kelihatan dan di rasakan di dalam persekutuan, yakni hidup sebagaimana yang disebutkan dalam introitus dan Nas Pembacaan Epistel kita : sehati sepikir, tidak egois dan meneladani sikap hidup Yesus, yakni rendah hati dan rela berkorban sebagai wujud kepatuhan kepada BapaNya.

Bagaimana dengan kita? Yang jelas, Solidaritas kita kepada sesama bukan melihat siapa yang hendak kita tolong, namun yang harus kita yakini bahwa Tuhan ingin memakai kita sebagai saluran kasih setia Tuhan kepada manusia.

Kita teringat akan apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus di Matius 25: 35+40. Amin

(HKBP Ujung Menteng)

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap