Jakarta, sketsindonews – Dalam acara Diskusi Kebangsaan bertajuk “Jangan Suriahkan Indonesia” yang di insiator Alsyam Ikatan Alumni Syam Indonesia
Dalam diskusi itu hadir Duta Besar Suriah untuk RI Dr. Ziad Zahredin, dan ada Mufti (imam besar) Damaskus Syekh Adnan (ulama Sunni Aswaja) sebagai pembicara materi.(2/11))
Syekh Adnan membuka diskusi selaku keynote speaker menjelaskan asal muasal perang saudara di Suriah berawal dari politisasi isu agama “Rezim Anti Islam” yang didakwahkan di masjid – masjid.
Lalu dari politisasi masjid meningkat menjadi aksi demo yang dinamakan “Jum”at Ghodob” atau Jumat marah yakni turun ke jalan selesai sholat jumat, akhirnya mereka mempersenjatai diri jadilah pemberontak.
Dubes Suriah Dr. Ziad menjelaskan siapa di balik aksi demo “Jumat Marah” berujung makar tersebut merupakan koalisi negara – negara Arab Teluk dibeking Amerika & Israel, motifnya mengganti rezim Assad yang tidak ramah terhadap Barat
Terdengar tidak asing? Tentu saja terdengar tidak asing karena itu karena itu bisa terjadi di Indonesia.
Cuma bedanya di Suriah adalah Proxy (Boneka) Asing sedangkan disini adalah proxy politisi oposisi dengan kemasan demo bela, jelasnya
Karena 2019 adalah pertaruhan terakhir bagi ujian bagi Indonesia dalam perpolitikan merebut kekuasaan karema berfikir harus menang dengan mengacu pada isu serta berbagai cara dalam memenangkan pemilu.
Menghalalkan segala cara dari nebar HOAX rezim PKI, rezim anti islam, sampai agitasi bakar amarah akar rumput lewat politisasi isu agama demo aksi berjilid – jilid akan kerap muncul.
Namun Dubes Dr. Ziad optimis rakyat Indonesia lebih cerdas, tidak mudah ditipu oleh aksi politisi yang kerap menggunakan syahwat politik. (**)






