Jakarta, sketsindonews – 4 (empat) kali pilpres sudah di lewati hingga pergantian 4 Walikota di Jakarta Pusat namun PKL Jiung Kemayoran Jakarta Pusat tak bisa tuntas untuk mengembalikan fungsi akses jalan (normalisasi) bagi publik berlalu lintas.
Padahal akses itu vital bagi distribusi ekonomi pengguna jalan dari semua sisi, selama ini kawasan itu menjadi macet jika jam sibuk karena alternatif jalan hanya di depan Polsek untuk semua kendaraan roda dua dan mobil menuju jalan Sumur Batu, Sunter.
Bahkan PKL semakin menjadi hingga jembatanpun d jadikan “counter corner” hingga pendestrian kali Sentiong yang sudah di programkan penataan oleh pihak Kelurahan Kebon Kosong menjadi percuma karena rusak oleh pijakan kaki serta tenda bongkar pasang.
Miris akses itu seolah sudah menjadi tak di fungsikan sehingga banyak pelintas khususnya motor melakukan lawan arah akibat jalan utama itu ditutup setiap hari mulai pukul 14.00 – 02.00 WIB, ujar Joko (31) warga Kemayoran.
Menurut Joko, wilayah Yang meliputi 2 RW (04,05) sepanjang jalan itu di kordinir 4 kordinator PKL yang tak pernah memberikan kontribusi bagi penataan perbaikan lingkungan terlebih menjaga kebersihan hasil kawasan jalan.
Supply listrik PKL sangat mudah karena jaringan kabelnya oleh warga sekitar diberikan akses selain kabel listerik bawah tanah tak pernah dicabut, tandasnya.
Tempat LPS Baru
“Selama ini pemerintah menyediakan puluhan sarana sampah berjejer sebagai antisipasi pembuangan sampah untuk tidak membuang kekali Item Sentiong.”
Dirinya setuju jika kawasan pinggiran kali di jadikan LPS saja karena selama ini wilayah Kemayoran dan sekitarnya minimnya shelter sampah. Pemerintah Kecamatan Kemayoran sebelumnya memberlakukan serta menghapus penempatan gerobak di wilayah Utan Panjang dan Harapan Mulia.
“Pembentukan pengangkutan sampah Terpadu di Utan Panjang terlihat selama ini terkendali karena pekerjaan dilakukan tepat waktu hingga sore hari sudah tuntas.”
Kedua, penghijauan kawasan pinggiran kali akhirnya bisa di lanjutkan sebelum pihak Sudin Bina Marga Kota Jakarta Pusat enggan melakukan pembuatan trotoar karena lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya untuk publik, terang Joko.
Pihak lain Lurah Kebon Kosong Syamsul Ma’arif secara khusus memberi isyarat kami bukan tak mau menata jika kawasan itu masih tertutup dari ratusan lapak tenda, ucapnya. (16/6)
Kartini Raya Dipenuhi Gerobak Sampah
Sementara kawasan Jalan Kartini Raya, Sawah Besar, Jakarta Pusat dibiarkan kumuh dan kotor, persisnya terletak disamping Swiss-Belhotel.
Yah bongkar muat sering lambat selain dijadikan parkiran sampah sehingga menjadikan pandangan tak elok, ujar Eman warga Sawah Besar.
Terlebih bantaran penghijauan di lokasi kawasan ini pun berubah fungsi menjadi lapak pemulung dan Pedagang Kaki Lima (PKL) mulai marak.
“Kita harapkan keindahan jalan itu harus kembali selain gerobak untuk tak berjejer hingga sampah tak diangkut.”
Kita tunggu saja Lurah Kartini menata kawasan ini, untuk membuat perubahan estetika jalan Kartini untuk lebih bermartabat, ucap Eman.
nanorame










