1447 H
رمضان كريم
Marhaban Ya Ramadan
Semoga bulan suci ini membawa keberkahan, kedamaian, dan ampunan bagi kita semua.
✦ Mari sucikan hati, perbanyak ibadah, dan pererat silaturahmi ✦
Hengki Lumban Toruan
HENGKI LUMBAN TORUAN CEO & Founder Sketsa Indonesia

Pidato Soekarno Dalam Indonesia Menggugat

oleh
15K pembaca

Jakarta, sketsindonews – Soekarno menjelaskan kepada para jaksa penuntut bahwa pemerintah Hindia Belanda telah melakukan pemerasan sejak abad ke-18. Banyak buruh tani yang bekerja di perkebunan-perkebunan teh dan kopi di Priangan bekerja tanpa menerima upah.

Hasil dari eksploitasi itu adalah berjuta-juta gulden mengalir ke negeri induk, Nederland, Soekarno menyebut pemerasan itu sebagai imperalisme kuno karena belum ada infrastruktur yang memadai untuk melakukan eksploitasi.

Soekarno kemudian menceritakan cara kerja imperialism kuno itu. Hingga 1886 masih ada buruh perkebunan kopi menerima upah empat atau lima sen per hari. Padahal mereka memerlukan tiga puluh sen untuk hidup.

Gambar

Diperkebunan kopi ada pembayaran  £ 4, 5 per tahun untuk satu keluarga, jadi 90 sen untuk satu orang.
.
Soekarno menguraikan pula tentang akibat dari pemerasan imperialism kuno itu. Dia mengatakan bahwa agar penduduk tidak menjadi sasaran pemerasan yang brutal, maka mereka mengungsi.

Pengungsian penduduk banyak terjadi di perkebunan-perkebunan itu secara besar-besaran. Inilah cara satu-satunya untuk keluar dari kesengsaraan. Mereka berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain.

Imperialisme tua makin lama makin layu. Imperialisme modern menggantikan tempatnya. Cara pengerukan harta yang menggali untung bagi Belanda itu makin lama makin berubah. Terdesak oleh cara pengerukan baru yang memperkaya capital partikelir, maka Undang-Undang Agraria dan Undang-Undang Tanaman Tebu de Waal diterima oleh Staten General, Belanda, pada 1870. Kapital partikelir masuk ke Indonesia dan mendirikan pabrik gula, perkebunan teh dan tembakau.

Mereka mendatangkan pula manajer–manajer untuk mengelola perusahaan. Kapital partikelir juga membuka bermacam-macam perusahaan tambang dan perusahaan jaringan kereta api untuk Jawa. Madura, dan Sumatera, serta menggelar perusahaan kapal laut dan jaringan pelabuhan di seluruh Nusantara.

Mengalir dari Indonesia makin lama makin besar, dan pengeringan Indonesia terus terjadi. Menurut Soekarno, ada empat sakti modus dari imperalisme modern.

Pertama, Indonesia tetap menjadi penyedia bahan mentah.

Kedua, Indonesia menjadi penyedia bahan mentah bagi pabrik-prabrik Eropa.

Ketiga, Inondonesia menjadi pasar produk industry negeri-negeri asing. Keempat, Indonesia menjadi lapangan usaha capital yang jumlahnya ratusan, ribuan, dan jutaan rupiah jumlahnya.

Dengan penuh keyakinan Soekarno menyatakan, “Bahwasannya, matahari bukan terbit karena ayam berkokok, ayam jantan berkokok karena matahari terbit…. Pergerakan ini tumbuh terus dan tidak usah diragu-ragukan, bahwa ia akan mencapai cita-citanya, yakni memerdekakan rakyat Indonesia dari penjajahan (itu).”

Belanda kemudian menangkap para pemimpin PNI. Soekarno, Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata dituduh hendak menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda kemudian berhasil ditangkap dan dibawa ke penjara Bantjeuj di Bandung, Jawa Barat.

Pada saat sidang, Soekarno membacakan pledoi yang berjudul “Indonesia Menggugat”. Isi dari pledoi Indonesia menggugat garis besarnya sebagai berikut: 

“Selain dari tempat tidur, satu-satunya perabot yang ada dalam selku adalah sebuah kaleng tempat buang air.

Kaleng yang menguapkan bau tidak enak itu adalah perpaduan dari tempat buang air kecil dan melepaskan hajat besar,” kata Bung Karno dalam otobiografinya. “Ia (kaleng itu) aku alasi dengan beberapa lapis kertas sehingga tebal dan aku mulai menulis. dengan cara begini aku bertekun menyusun pembelaanku yang kemudian menjadi sejarah politik Indonesia dengan nama Indonesia Menggugat,” kata Bung Karno lagi.

“Pengadilan menuduh kami menjalankan kejahatan? Dengan apa kami menjalankan kejahatan? Dengan pedang? Dengan bedil? Dengan bom? Senjata kami adalah rencana,” tutur Bung Karno.

“Rencana untuk mempersamakan pungutan pajak sehingga rakyat marhaen yang memiliki penghasilan Rp 60 setahun tidak dibebani pajak yang sama dengan orang kulit putih yang memiliki penghasilan Rp 9.000 setahun,” lanjut Bung Karno.

Pembelaan yang dibacakan Bung Karno itu kemudian ramai diberitakan oleh koran-koran di masa itu. Meski mendapat perhatian luas dari dunia internasional, Belanda tetap bersikukuh menjatuhi hukuman empat tahun penjara kepada Soekarno.

Penulis: Mufid Nur Cahya – 7101210005  Mahasiswa Univ Bung Karno

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap