Logo HPN 2026

Hari Pers Nasional

Akan diselenggarakan di
PROVINSI BANTEN
9 Februari 2026

Menag: NU Adalah Pesantren Besar Penjaga Moderasi dan Kebangsaan

21K pembaca

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) merupakan pesantren besar yang memiliki kekuatan keilmuan, tradisi, dan moderasi yang kokoh dalam menjaga kehidupan beragama serta persatuan bangsa Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Menag saat memberikan Khutbah Syuriah dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) 100 Tahun Masehi Nahdlatul Ulama bertema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia” di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).

“Seratus tahun perjalanan PBNU bukan waktu yang pendek. Di sinilah NU menunjukkan kematangannya sebagai organisasi. Sesungguhnya, Nahdlatul Ulama adalah pesantren besar,” ujar Nasaruddin Umar.

Gambar

Menag menjelaskan, tradisi pesantren yang menjadi ruh NU sarat dengan dinamika keilmuan, termasuk dialog dan perdebatan antarmazhab seperti Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Menurutnya, dinamika tersebut mencerminkan kuatnya budaya akademik di lingkungan NU.

“Diskusinya bisa sangat dinamis dan tajam, tetapi justru di situlah terlihat kekuatan tradisi keilmuan pesantren,” jelasnya.

Ia juga menggambarkan NU sebagai keluarga besar yang penuh dinamika, namun tetap menjaga keharmonisan dan keterbukaan.

“NU penuh dinamika, tetapi tetap menjadi keluarga yang sakinah. Bahkan, orang luar bisa merasa menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama,” ungkap Menag.

Menghadapi tantangan global yang bergerak cepat, Menag mengingatkan potensi munculnya berbagai guncangan, mulai dari teologis, kultural, politik, ekonomi, hingga ilmiah. Oleh karena itu, ia mendorong NU untuk menyiapkan figur-figur manajer yang mengedepankan kerja kolektif.

“Ke depan, NU perlu menekankan kepemimpinan berbasis super team atau the power of we,” katanya.

Menag menambahkan, kepemimpinan ideal adalah perpaduan antara pemimpin dan pengelola, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

“Nabi bukan hanya seorang leader, tetapi juga manager. Ini teladan penting bagi kepemimpinan hari ini,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Menag juga menegaskan komitmen NU terhadap prinsip moderasi beragama.

“NU tidak akan menyamakan yang berbeda dan tidak akan membedakan yang sama. Inilah prinsip moderasi Nahdlatul Ulama,” tegasnya.

Menutup sambutannya, Menag Nasaruddin Umar menyampaikan ucapan selamat atas satu abad perjalanan NU.

“Atas nama Menteri Agama Republik Indonesia, saya mengucapkan selamat atas 100 tahun perjalanan Nahdlatul Ulama,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menegaskan peran strategis NU di tingkat global, khususnya dalam isu kemanusiaan dan perdamaian dunia.

“NU memiliki posisi kuat di tengah masyarakat dunia. Karena itu, kami didorong untuk lebih aktif berkontribusi dalam isu global dan kemanusiaan dari perspektif nilai-nilai agama,” ujar Gus Yahya.

Ia juga menyatakan komitmen NU untuk mendukung berbagai agenda pemerintah yang berorientasi pada kemaslahatan dan perdamaian.

“NU mendukung setiap upaya pemerintah yang bertujuan menghadirkan kebaikan dan kemaslahatan bagi rakyat,” tuturnya.

Acara tersebut turut dihadiri Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua DPD RI Sultan Najamuddin, Menko PMK Pratikno, serta Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap