Logo HPN 2026

Hari Pers Nasional

Akan diselenggarakan di
PROVINSI BANTEN
9 Februari 2026

Green Economy Jadi Instrumen Pemerataan Kesejahteraan

Menko Pemberdayaan Masyarakat A. Muhaimin Iskandar menyampaikan kuliah umum tentang green economy dan circular economy di Kampus ITB, Bandung, Rabu (11/2/2026).(Sumber: pemberdayaan.go.id)
11.5K pembaca

Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) A. Muhaimin Iskandar menegaskan bahwa green economy dan circular economy bukan semata agenda pelestarian lingkungan, tetapi peluang strategis untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat dan pemerataan kesejahteraan.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam kuliah umum (studium generale) di Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat, Rabu (11/2/2026).

Ekonomi Hijau Harus Libatkan Akar Rumput

Gambar

Muhaimin menekankan, transisi menuju ekonomi hijau harus dirancang inklusif agar menciptakan nilai tambah di tingkat akar rumput.

Green economy dan circular economy bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan peluang besar bagi tumbuhnya ekonomi sekaligus pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam pengembangan energi terbarukan menjadi kunci. Mulai dari manufaktur komponen, operasi dan pemeliharaan, hingga pengembangan bioenergi berbasis komunitas dapat membuka ruang ekonomi baru.

Potensi Besar Energi Terbarukan dan Agroindustri Sirkular

Menko PM menjelaskan, sektor energi terbarukan, mineral kritis, agroindustri sirkular, hingga waste-to-energy memiliki potensi signifikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam agroindustri sirkular, limbah pertanian dapat diolah menjadi bioenergi dan biomaterial bernilai tambah sehingga petani dan koperasi memperoleh peningkatan nilai ekonomi.

Sementara itu, pengelolaan sampah modern dan skema waste-to-energy berpotensi menciptakan lapangan kerja baru sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan.

E-Waste Jadi Sumber Ekonomi Baru

Muhaimin juga menyoroti meningkatnya volume sampah elektronik (e-waste) global yang mencapai puluhan juta ton per tahun. Limbah tersebut mengandung logam bernilai tinggi seperti tembaga, nikel, dan kobalt.

Ia menilai, apabila pengelolaan dan daur ulang e-waste dilakukan secara sistematis dan berbasis teknologi, sektor ini dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

“Inilah contoh konkret bagaimana circular economy mengubah persoalan sosial menjadi sumber kesejahteraan,” katanya.

Peran Strategis Kampus dan Kolaborasi Ekosistem

Muhaimin menegaskan keberhasilan ekonomi hijau dan sirkular membutuhkan orkestrasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, ITB dinilai memiliki posisi strategis dalam mencetak SDM unggul, menetapkan standar teknologi, dan memastikan inovasi berdampak langsung bagi publik.

Circular economy harus bergerak dari konsep menjadi sistem, dari proyek menjadi ekosistem, dari wacana menjadi realitas kehidupan,” tegasnya.

Ia menambahkan, industrialisasi hijau dan sirkular menjadi jalur strategis agar Indonesia naik kelas, lebih inklusif, berdaya saing, dan berkeadilan sosial.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap