Oleh: H. Abdullah Sugiyanto
Bicara tentang puasa hanya ada lima ayat di dalam alqur’an, yakni Surat Albaqorah ayat 183-187. Ayat ini sangat luar biasa, mengapa ? karena disetiap akhir ayat dari lima ayat tersebut selalu diakhiri dengan kata لعلى (La’ala) yang artinya suatu pengharapan. Namun hanya ada satu ayat yang tidak diakhiri kata ”لعلى” (La’ala) yaitu ayat 184 diakhiri dengan kata “Inkuntum Ta’lamun”.
Penulis akan membahas dari ayat 183, yang dikahiri kata “la’alakum tattaqun” artinya agar engkau menjadi orang yang bertaqwa, dan ayat 185 diakhir “La’alakum Tasykurun” agar engkau menjadi orang yang pandai bersyukur. Sementara ayat 186 diakhiri kata “La’alahum yarshuduun” agar engkau mendapat petunjuk, sedang ayat 187 diakhiri “La’alahum yattaqun” agar engkau menjadi pribadi yang bertaqwa.
Membahas ayat ini sangat menarik, menurut ulama besar Imam Asyuyuti mengatakan setiap kalimat yang diakhiri kata “la’ala” (harapan) maka harus dijalani dengan kesungguhan. Jika puasa Ramadhan dilaksanakan dengan benar dan sungguh-sungguh maka harapan akan terwujud, dan sebaliknya puasa Ramadhan tanpa kesungguhan maka tujuan itu tidak akan tercapai.
Kembali pada lima ayat puasa tersebut maka ada empat tujuam besar yang akan dicapai ketika menjalankan ibadah puasa Ramadhan yaitu:
Pertama: terwujudnya pribadi yang bertaqwa. Taqwa dimaknai berhasilnya membangun hubungan baik dengan Allah Subhana Wata’ala secara vertikal dan juga berhasil membangun hubungan baik dengan sesame secara horizontal. Taqwa tidak bisa hanya ego melalui satu jalan, tapi harus dua jalan. Bahkan orang yang berhasil membangun ketaatan kepada allah dan menjauhi laranganNya, tapi dia tidak berhasil membangun hubungan baik dengan sesamanya, kata Nabi Innaha min ahlinnar, orang itu termasuk ahli neraka. Sebaliknya tidak berhasil dalam membangun ketaatan kepada allah dan menjauhi laranganNya, tapi dia berhasil membangun hubungan baik dengan sesamanya, kata Nabi Dia termasuk ahli neraka.
Kedua; diakhiri dengan kata inkuntum ta’lamun artinya jika engkau mengetahui. Ini tersirat bahwa tujuan puasa adalah menjadi orang yang berilmu. Ilmu memiliki peran penting dalam konsep beramal, karena amal tanpa ilmu tidak akan maksimal dan tidak mampu menuju amal yang shoheh/ berkualitas. Maka kata Imam Syafi’i barang siapa mencari dunia maka dengan ilmu, barang siapa mencari akherat dengan ilmu, dan barang siapa mencari keduanya yaitu dunia akherat maka dengan ilmu. Begitu pentingya ilmu yang harus dimiliki orang-orang yang beriman dalam menjaga derajadnya dihadapan Allah.
Ketiga: Bersyukur, tujuan ibadah puasa adalah menjadi orang yang pandai bersyukur. Fokus pada nikmat yang diberikan Allah, apapun kondisinya. Tidak pernah berkeluh kesah, tapi tetap menikmati pemberianNya. Allah berjanji dalam Alquran Surat Ibrahim Ayat 7 artinya sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari, maka azab-Ku sangat berat.
Keempat: Petunjuk, tujuan dari puasa adalah agar mendapat petunjuk. Hidayah atau petunjuk adalah hak prerogatif Allah yang diberikan kepada hamba yang dikehendaki-Nya, khususnya mereka yang berupaya mencari kebenaran, bertakwa, dan memiliki hati yang lapang untuk menerima Islam. Meskipun manusia, termasuk Nabi, tidak dapat memberi hidayah, Allah Maha Mengetahui siapa yang layak mendapatkannya. Sehingga Petunjuk ini tidak serta merta diberikan kepada seseorang, namun diberikan Allah kepada siapa yang dikehendaki.
Hidayah seringkali naik turun seiring dengan fluktuasi iman seseorang, sehingga manusia perlu terus berupaya menjaga imannya agar tetap mendapat petunjuk.
Sebagaimana dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim. “Barang siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk”. Kalimat ini menegaskan kekuasaan mutlak Allah dalam memberikan petunjuk dan menafikan adanya kekuatan lain yang bisa menghalangi kehendak Allah.
Dari uraian diatas maka tujuan dari puasa ramadhan adalah menjadikan pribadi yang bertaqwa, berilmu, bersyukur dan mendapatkan hidayah (petunjuk). Semoga kita mampu meraihnya dan perjuangan ramadhan kali ini menjadi bekal terbaik di yaumul qiyamah dan menjadi amal sholeh.
Ramadhan tidak hanya sekedar rutinitas tahunan namun sebagai momentum perubahan diri.
Wallahu ‘alam bi showab.











