Inflasi pangan selama Ramadan 2026 tercatat terkendali di angka 0,68 persen pada Februari 2026. Capaian ini dinilai menjadi sinyal positif stabilitas harga bahan pokok di tengah momentum peningkatan konsumsi masyarakat.
Pakar Ekonomi Pertanian Ninasapti Triaswati dari Universitas Indonesia mengaku bersyukur atas kondisi tersebut. Ia menilai, pasokan yang memadai dan distribusi yang lancar menjadi faktor utama terkendalinya harga pangan.
“Saya bersyukur karena harga terkendali. Kalau melihat harga pangan dari bulan ke bulan juga sangat terkendali di dalam negeri,” ujar Ninasapti, Senin (2/3/2026).
Lebih Rendah dari Ramadan Sebelumnya
Berdasarkan data historis lima tahun terakhir, inflasi hampir selalu terjadi saat Ramadan. Namun, angka Februari 2026 lebih rendah dibanding Ramadan April 2022 yang mencapai 0,95 persen dan jauh di bawah lonjakan Maret 2025 yang sempat menembus 1,65 persen.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan andil kenaikan harga komoditas pertanian relatif kecil dan berada di bawah 1 persen. Beberapa komoditas yang menyumbang inflasi antara lain:
- Daging ayam ras (0,09%)
- Cabai rawit (0,08%)
- Ikan segar (0,05%)
- Cabai merah (0,04%)
- Tomat (0,02%)
Tidak terdapat lonjakan ekstrem pada komoditas utama yang memicu tekanan harga signifikan.
Waspadai Dampak Global
Meski demikian, Ninasapti mengingatkan potensi risiko dari faktor eksternal, terutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada jalur energi global seperti Selat Hormuz.
Penutupan jalur tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia. Bagi Indonesia yang masih mengimpor BBM, kondisi itu dapat memicu kenaikan biaya logistik dan distribusi pangan.
“Ingat, inflasi itu dinamis. Jika harga minyak dunia naik, biaya transportasi dan distribusi pangan ikut terdorong,” jelasnya.
Swasembada Jadi Kunci
Menurut Ninasapti, menjaga produksi pangan nasional tetap stabil adalah langkah utama untuk mengantisipasi dampak gejolak global.
Ia menekankan pentingnya memperkuat program swasembada pangan agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor dan mampu menjaga stabilitas harga dalam negeri.
“Sepanjang kebutuhan dalam negeri bisa dipenuhi sendiri, dampak gejolak harga dunia bisa ditekan,” tegasnya.






