RAPIMDA I PDPM Ponorogo Perkuat Peran Kader dalam Politik Kebangsaan

oleh
Dr. H. Suli Da'im menyampaikan keynote speech pada RAPIMDA I Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Ponorogo yang diikuti sekitar 250 kader di Rumah Makan Restomu, Ponorogo, Sabtu (1/8/2026).
12.5K pembaca

Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Ponorogo menggelar Rapat Pimpinan Daerah (RAPIMDA) I di Rumah Makan Restomu, Sabtu (1/8/2026). Kegiatan yang diikuti sekitar 250 peserta ini menjadi ajang konsolidasi organisasi untuk memperkuat peran kader dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ponorogo KH. Drs. Moh. Syafrudin, M.A., Wakil Ketua Fraksi PAN DPRD Jawa Timur Dr. H. Suli Da’im, M.M. sebagai keynote speaker, Kepala Bidang Kesra Pemkab Ponorogo Hadi Rustiyono, S.STP., M.Si., Sekretaris Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Jawa Timur Ali Zulkarnain, serta jajaran pengurus PDPM dan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) se-Kabupaten Ponorogo.

Ketua PDPM Ponorogo, Darmanto Saputro, mengatakan tantangan zaman menuntut Pemuda Muhammadiyah menjadi organisasi yang adaptif, kolaboratif, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai persyarikatan.

“Pemuda Muhammadiyah harus mampu berkolaborasi, berpikir rasional dalam konteks politik kebangsaan, serta membangun komitmen yang kuat untuk mengabdi kepada umat, bangsa, dan persyarikatan,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris PWPM Jawa Timur, Ali Zulkarnain, menilai politik merupakan ruang pengabdian yang harus diisi oleh kader berintegritas dan memiliki kompetensi.

“Momentum ini harus dimanfaatkan kader Pemuda Muhammadiyah untuk berkontribusi dalam politik kebangsaan dengan membawa nilai-nilai Islam Berkemajuan,” katanya.

Dalam pidato utamanya, Dr. H. Suli Da’im mengajak kader memahami politik secara idealis, rasional, dan realistis tanpa meninggalkan nilai-nilai moral Islam. Ia mengulas pemikiran filsuf politik Italia, Niccolò Machiavelli, sebagai referensi untuk membaca dinamika politik secara objektif.

Menurutnya, memahami realitas politik bukan berarti membenarkan segala cara, melainkan mengombinasikan kemampuan membaca situasi dengan integritas dan etika.

“Machiavelli mengajarkan bahwa dunia politik harus dipahami sebagaimana adanya. Namun bagi kader Muhammadiyah, memahami realitas politik bukan berarti menghalalkan segala cara. Justru kita harus memadukan kecerdasan membaca situasi dengan integritas moral yang diajarkan Islam,” tegas Suli Da’im.

Ia menambahkan, kader Pemuda Muhammadiyah harus memiliki ideologi yang kuat, strategi yang cerdas, serta tetap menjunjung tinggi etika dan nilai-nilai dakwah dalam setiap langkah politik.

“Politik kebangsaan membutuhkan kader yang kuat secara ideologi, cerdas secara strategi, tetapi tetap menjunjung tinggi etika dan nilai-nilai dakwah. Realisme politik harus menjadi alat membaca keadaan, bukan alasan untuk meninggalkan integritas,” ujarnya.

Suasana RAPIMDA semakin semarak saat sesi refleksi komitmen. Suli Da’im mengajak seluruh peserta meneguhkan komitmen perjuangan, yang disambut jawaban serempak sekitar 250 kader dengan penuh semangat.

RAPIMDA I PDPM Ponorogo diharapkan menjadi titik awal lahirnya berbagai program strategis untuk meningkatkan kapasitas kader, memperluas kolaborasi lintas sektor, serta memperkuat kontribusi Pemuda Muhammadiyah dalam pembangunan di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dan Indonesia.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap