Tugu Pers Mendur Memprihatinkan, Jasa Alex dan Frans Mendur Kembali Disorot

oleh
Tugu Pers Mendur di Talikuran, Kecamatan Kawangkoan Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, menjadi bagian penting dalam upaya mengenang jasa fotografer Alex dan Frans Mendur yang mengabadikan berbagai momentum sejarah Indonesia.
11.9K pembaca

Kondisi Tugu Pers Mendur di Talikuran, Kecamatan Kawangkoan Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, kembali menjadi sorotan menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Tugu yang berkaitan erat dengan sejarah dua fotografer legendaris Indonesia, Alex dan Frans Mendur, itu disebut membutuhkan perhatian serius. Bangunan rumah panggung di kawasan tersebut dilaporkan mulai mengalami kerusakan akibat rayap, sementara bagian dinding terlihat kusam.

Kondisi koleksi foto karya Mendur bersaudara juga menjadi perhatian. Dari sekitar 113 foto yang sebelumnya disebut berada di kawasan tersebut, kini hanya sebagian yang masih tersisa.

Pengelola Tugu Pers Mendur, Pierre Mendur, menilai kondisi itu menjadi ironi di tengah upaya bangsa Indonesia memperingati perjuangan kemerdekaan.

Menurut Pierre, penghormatan terhadap tokoh sejarah tidak cukup dilakukan melalui upacara dan seremoni. Peninggalan, arsip, serta karya yang menjadi bukti perjalanan bangsa juga harus dirawat.

“Ada sesuatu yang sangat lucu sekaligus menyedihkan dari cara bangsa ini menghormati sejarah. Setiap Agustus kita sibuk bicara tentang pahlawan, memasang bendera dan menggelar upacara. Tetapi di Talikuran, sejarah justru sedang dimakan rayap,” ujar Pierre, Jumat (14/8/2026).

Koleksi Foto Mendur Terancam Hilang

Pierre mengatakan persoalan yang dihadapi Tugu Pers Mendur bukan hanya kerusakan bangunan. Hilangnya sebagian koleksi foto karya Alex dan Frans Mendur dinilai jauh lebih mengkhawatirkan karena foto-foto tersebut merupakan bagian dari arsip visual perjalanan Indonesia.

“Dulu ada sekitar 113 foto karya Mendur bersaudara. Sekarang hanya beberapa yang tersisa. Selebihnya entah ke mana. Yang hilang bukan sekadar lembaran foto, tetapi bagian dari ingatan Indonesia,” katanya.

Alex dan Frans Mendur dikenal sebagai fotografer yang merekam berbagai peristiwa penting dalam perjalanan Republik Indonesia. Karya mereka menjadi bagian dari dokumentasi visual mengenai masa awal kemerdekaan, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, hingga dinamika hubungan Indonesia dan Belanda.

Bagi Pierre, foto-foto tersebut memiliki nilai sejarah yang lebih luas daripada sekadar dokumentasi jurnalistik. Karya Mendur bersaudara menjadi bukti visual yang membantu masyarakat memahami kondisi Indonesia pada masa awal berdirinya republik.

“Ketika sejarah Indonesia membutuhkan saksi, mereka hadir dengan kamera. Ketika republik masih rapuh dan masa depan belum jelas, mereka merekamnya,” ujarnya.

Tugu Pers Mendur Butuh Perhatian

Tugu Pers Mendur diharapkan dapat menjadi tempat untuk menjaga dan memperkenalkan sejarah fotografi jurnalistik serta perjuangan kemerdekaan kepada generasi berikutnya.

Monumen tersebut diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 Februari 2013. Namun, kondisi fisik bangunan dan keberadaan koleksi yang tersisa dinilai membutuhkan perhatian pemerintah.

Pierre mempertanyakan komitmen negara dalam merawat peninggalan sejarah yang berkaitan langsung dengan perjalanan pers dan perjuangan bangsa.

“Jangan sampai negara terlihat sangat cepat memberikan penghargaan kepada mereka yang masih punya panggung, tetapi begitu lambat menghormati mereka yang sudah memberikan karya untuk generasi yang bahkan belum lahir ketika karya itu dibuat,” tegasnya.

Menurut Pierre, upaya penyelamatan tidak cukup hanya dengan memperbaiki tampilan fisik bangunan. Pemerintah perlu melihat Tugu Pers Mendur sebagai bagian dari aset sejarah dan memori kolektif bangsa.

Ia mendorong seluruh arsip yang masih tersedia segera diamankan dan didigitalisasi. Penelusuran terhadap koleksi yang keberadaannya belum diketahui juga dinilai perlu dilakukan.

“Foto yang hilang tidak bisa dipotret kembali. Sejarah yang hilang tidak bisa di-restore seperti file komputer. Karena itu, yang harus dilakukan sekarang adalah menyelamatkan apa yang masih ada sebelum semuanya terlambat,” katanya.

Dorong Mendur Bersaudara Jadi Pahlawan Nasional

Selain persoalan pelestarian Tugu Pers Mendur, Pierre kembali mendorong agar Alex dan Frans Mendur mendapatkan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional.

Menurut dia, kontribusi kedua fotografer tersebut dalam mendokumentasikan perjalanan Indonesia memiliki nilai sejarah yang besar dan layak mendapatkan apresiasi lebih tinggi.

“Alex dan Frans Mendur telah mengabadikan wajah perjuangan Indonesia. Pertanyaannya sekarang, siapa yang akan mengabadikan jasa mereka?” kata Pierre.

Ia menyadari pemberian gelar Pahlawan Nasional memiliki mekanisme dan persyaratan yang harus dipenuhi. Karena itu, ia berharap proses pengusulan dapat dilakukan sesuai ketentuan apabila seluruh persyaratan telah terpenuhi.

“Kalau seluruh persyaratannya memang terpenuhi, kami berharap proses pengusulan dan penetapan Alex dan Frans Mendur sebagai Pahlawan Nasional dapat diselesaikan,” ujarnya.

Pierre juga mengusulkan agar Tugu Pers Mendur dikembangkan sebagai pusat edukasi sejarah pers dan perjuangan Indonesia. Tempat tersebut dapat menjadi ruang pembelajaran bagi pelajar, wartawan, peneliti, dan masyarakat umum.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Arsip foto yang masih tersimpan dapat didigitalisasi, dikatalogkan, dan dipublikasikan secara terukur agar dapat dipelajari masyarakat tanpa mengabaikan aspek konservasi.

“Jangan menunggu rumah panggung itu roboh. Kita mungkin masih bisa membangun bangunan baru, tetapi ketika arsip sejarah hilang, kita tidak bisa membangun kembali ingatan yang sudah mati,” pungkas Pierre.

Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, menurut Pierre, seharusnya menjadi pengingat bahwa menghormati tokoh perjuangan tidak cukup melalui upacara dan pidato.

Merawat karya, arsip, serta tempat yang menjadi bagian dari sejarah bangsa juga merupakan bentuk penghormatan kepada mereka yang telah merekam perjalanan Republik Indonesia.

Ia berharap generasi mendatang tetap dapat mengenal Alex dan Frans Mendur bukan hanya sebagai nama dalam buku sejarah, tetapi sebagai fotografer yang meninggalkan jejak visual penting bagi perjalanan bangsa.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap